Di Desa Mangliawan, pelestarian sumber daya air menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kebersamaan dan guyub rukun masyarakat Desa Mangliawan turut mempengaruhi keberhasilan praktik pelestarian sumber daya air. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Warga dari berbagai agama dan latar belakang bekerja sama tanpa ada diskriminasi. Mereka memahami bahwa menjaga sumber daya air bukanlah tanggung jawab satu individu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.
Melalui praktik pengolahan keragaman yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Mangliawan telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga sumber daya air tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Mangliawan tetap menjadi teladan dalam pelestarian sumber daya air dan pengelolaan lingkungan yang baik.

Mijiling Tirto adalah sebuah tembang air yang mengiringi ritual Selamatan Kali di Desa Mangliawan yang diusung oleh Komunitas Budaya H3 (Hurip, Hurup, Handarbeni). Suara merdu para sinden bergema dalam setiap prosesi ritual, memberikan suasana yang semakin kental dengan keagungan alam. Dalam kegiatan ini, terdapat sebuah prosesi yang dilakukan oleh para gadis, di mana mereka mengambil air sebagai simbol kesucian.
Setiap tetes air yang diambil menjadi sebuah doa dan ungkapan rasa syukur atas ketersediaan sumber daya air yang telah melimpah. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan nilai kebersihan, tetapi juga mengajarkan untuk meraih kehidupan yang tata, titi, dan tentrem, yang artinya meraih kehidupan yang teratur, damai, dan sejahtera.
Mijiling Tirto menjadi sebuah simbol dari kesederhanaan dan keelokan alam Desa Mangliawan. Suatu keindahan yang abadi dan tidak tergoyahkan, yang terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selamatan Kali dan tembang air Mijiling Tirto selalu menjadi wujud rasa syukur atas keberlimpahan alam dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal Desa Mangliawan.

Acara Tirto Suci merupakan sebuah tradisi yang diadakan di Desa Mangliawan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan berupa rezeki, keselamatan, serta melimpahnya air. Acara ini dimotori oleh Komunitas Budaya H3 (Hurip, Hurup, Handarbeni). Tradisi ini dilaksanakan pada hari Kamis Legi dan Selasa Kliwon dengan diikuti oleh seluruh warga dan komunitas air dan budaya di Desa Mangliawan.
Acara ini menghadirkan tiga tokoh dari perwakilan Muslim, Kejawen, dan Hindu, yang menunjukkan nilai kerukunan dan toleransi antarumat beragama yang kuat di Desa Mangliawan. Tidak ada perbedaan antara mereka dalam merayakan tradisi Tirto Suci, semua berpartisipasi dengan penuh semangat dan keikhlasan.
Tradisi Tirto Suci juga memiliki makna yang dalam, karena tidak hanya mengajarkan tentang rasa syukur dan kebersamaan, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga sumber daya air sebagai anugerah Tuhan yang diberikan kepada semua makhluk hidup. Dengan menjaga sumber daya air secara bersama-sama, masyarakat di Desa Mangliawan dapat memastikan keberlangsungan hidup yang baik dan lestari bagi generasi mendatang. Kerukunan dan toleransi dalam merayakan tradisi Tirto Suci di Desa Mangliawan merupakan contoh nyata dari keberhasilan masyarakat dalam membangun hubungan harmonis antarwarga yang memiliki latar belakang beragam.

Taman Wendit Lanang, mata air kuno yang mengalir dalam sejarah. Wilayah ulayat dan tanah adat rakyat Desa Mangliawan, menjadi pusat kehidupan dan sumber perekonomian warga setempat. Tidak hanya menjadi tempat sakral dalam pelaksanaan ritual adat yang digerakkan oleh LAD (Lembaga Adat Desa) Mangliawan, Wendit Lanang juga menjadi tempat di mana masyarakat mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kehadirannya yang abadi dan penting dalam membangun branding desa, menggabungkan unsur pariwisata, ekonomi, pemeliharaan budaya adat, serta memperkaya kesatuan dan kebersamaan antar masyarakat desa. Wendit Lanang, sebuah karunia yang harus terus dijaga dan diwariskan sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal Desa Mangliawan.
Pahargyan Tirtha Wiwaha

Pahargyan Tirtha Wiwaha adalah perayaan perkawinan air antara Sumber Wendit Lanang dan Wendit Wadon. Sebuah upacara adat yang dilakukan oleh LAD (Lembaga Adat Desa) Mangliawan sebagai pelaku budaya dan diikuti oleh masyarakat umum.
Air dianggap sebagai sumber kehidupan yang vital bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Dalam budaya Jawa, air juga dipercayai memiliki kekuatan magis yang mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Oleh karena itu, upacara perkawinan air ini bertujuan untuk mempertemukan dua sumber air yang dianggap memiliki energi dan kekuatan magis yang berbeda, dan menggabungkannya menjadi satu. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat kekuatan dan energi positif dari air tersebut, serta memperkuat ikatan antara manusia dan lingkungan hidupnya.
Selain itu, upacara perkawinan air juga memiliki nilai sosial dan budaya yang penting. Perayaan ini diikuti oleh seluruh masyarakat, yang artinya mencakup berbagai lapisan sosial dan budaya. Dalam hal ini, upacara perkawinan air menjadi simbol dari persatuan dan kesatuan antarwarga desa, serta menggambarkan betapa pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan hidupnya.
Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Mangliawan, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Pakar pemberdayaan memahamkan cara mengoptimalkan potensi praktik baik yang ada di desa dan membangun kerjasama yang harmonis antarwarga, sementara pakar media membahas cara mengkomunikasikan pesan-pesan penting praktik baik kepada masyarakat melalui media yang efektif. Fasilitator memandu peserta dalam menyusun strategi penyebarluasan praktik baik, baik itu secara door-to-door ataupun melalui acara komunal dengan bantuan media peraga yang dipilih. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Foto Salah Satu Kelompok FGD pada Pelatihan Aktivis Desa Mangliawan.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.
Di Desa Mojorejo menjadi salah satu desa di Kota Batu yang telah ditetapkan sebagai “Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama” oleh Pemerintah Kota Batu maupun Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pada tahun 2021. Predikat tersebut tidak terlepas dari praktik baik (best practice) yang telah terbangun sekian lama di desa tersebut, yakni hubungan antar kelompok agama yang terjalin dengan baik dan harmonis. Penduduk Mojorejo memiliki keragaman pemeluk agama. Di samping Islam sebagai mayoritas, ratusan penduduk lain memeluk Kristen Protestan, Katolik, dan Budha.
Praktik kerukunan di Mojorejo misalnya antar umat agama saling bantu membantu dalam perayaan hari keagamaan masing-masing, saling berkunjung dan silaturahmi antar umat agama, membentuk kegiatan dan kesenian warga dengan latar belakang berbagai kepercayaan, dan sebagainya. Di Dusun Ngadat Mojorejo, antara masjid dan gereja berdiri berdampingan. Vihara Dhammadipa berdiri megah di depan balai desa. Tak kalah menarik, di Mojorejo juga terdapat punden Mojorejo yang juga menjadi lokasi Prasasti Sangguran, ditengarai prasasti peninggalan kerajaan Mataram Hindu-Budha abad 7. Masyarakat Mojorejo sangat menghargai keberadaan punden dan merawatnya hingga saat ini.
Kerukunan umat beragama menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kebersamaan dan gotong-royong masyarakat Desa Mojorejo turut mempengaruhi keberhasilan praktik kerukunan umat beragama. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Mereka memahami bahwa menjaga kerukunan bukanlah tanggung jawab satu individu saja, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.
Melalui praktik pengelolaan keragaman yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Mojorejo telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga kerukunan umat beragama tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Mojorejo tetap menjadi teladan dalam kerukunan umat beragama yang baik.

Credit: Foto warga Mojorejo.
Di salah satu tempat yang dulunya dikenal sebagai tempat yang mengerikan, kini menjadi tempat yang mengayomi masyarakat Desa Mojorejo. Punden Mbok Tarminah, begitu tempat tersebut dinamakan, tidak hanya berfungsi sebagai pusat spiritual, namun juga sebagai pusat budaya dan kesenian yang penting bagi masyarakat setempat. Menariknya, Punden Mbok Tarminah menjadi tempat berkumpulnya umat dari berbagai agama. Masyarakat desa bahkan sering mengadakan doa bersama lintas agama di tempat ini, dalam acara yang dikenal sebagai Malam Tirakatan. Punden ini juga menjadi lokasi yang sama dengan replika Prasasti Sangguran yang merupakan tinggalan kerajaan Hindu-Budha abad 7.
Hal ini menunjukkan betapa tingginya nilai kerukunan dan toleransi antar umat beragama dalam mewujudkan kebersamaan dan harmoni di masyarakat Desa Mojorejo. Harapannya Punden Mbok Tarminah dan warga Desa Mojorejo menjadi contoh inspiratif bagi masyarakat lainnya dalam menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

Credit: Foto warga Mojorejo.
Keindahan dan keberagaman agama di Desa Mojorejo memang patut dirayakan. Vihara Dhammadipa Arama menjadi sebuah simbol konkret tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat merayakan perbedaan agama dan menikmati kekayaan yang terkandung di dalamnya.
Tradisi Pindapatta di Desa Mojorejo membawa pengalaman spiritual yang sangat khas. Saat umat dari berbagai agama berkumpul untuk memberikan persembahan bagi para bhikkhu, suasana saling menghormati dan kebersamaan terjalin dengan sangat kuat. Terlepas dari perbedaan latar belakang agama, semua orang merayakan tradisi ini dengan penuh sukacita.
Keberagaman agama di Desa Mojorejo bukanlah halangan untuk hidup bersama dalam harmoni dan saling menghormati. Sebaliknya, keberagaman agama menjadi sumber kekuatan dan kebanggaan bagi masyarakat setempat. Desa Mojorejo memperlihatkan bahwa toleransi dan kebersamaan antar umat beragama bisa terjalin dalam keberagaman, yang menjadikan masyarakatnya semakin kuat dan meriah.

Credit: Foto warga Mojorejo.
Di Desa Mojorejo, bulan Ramadan bukan hanya menjadi momen suci bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi momen yang dirayakan secara inklusif dalam konteks kerukunan umat beragama. Masyarakat Desa Mojorejo menyelenggarakan kegiatan berbagi takjil dan buka bersama yang diadakan oleh warga non-Muslim, menunjukkan betapa inklusifnya mereka dalam merayakan bulan suci ini. Selain itu, antusiasme pemuda karang taruna yang berasal dari berbagai agama dalam memeriahkan bulan Ramadan juga menjadi bukti nyata tentang betapa kerukunan antarumat beragama di Desa Mojorejo. Dengan turun langsung ke jalanan untuk menghibur dengan cara bermain musik dan membangunkan sahur, pemuda karang taruna membuktikan bahwa meskipun berbeda agama, mereka tetap dapat hidup dan merayakan momen suci ini bersama-sama dalam suasana harmoni dan persaudaraan.

Credit: Foto warga Mojorejo.
Desa Mojorejo merupakan salah satu desa yang terkenal dengan budidaya ikan dan sayur organiknya. Meski turut serta memeriahkan perayaan ulang tahun Kota Batu dengan mempertunjukkan Fashion Karnaval, masyarakat setempat merasa bahwa keunggulan desa yang sebenarnya seharusnya dipersembahkan adalah produksi ikan dan sayur organik mereka. Diharapkan ke depannya, potensi budidaya ikan dan sayur organik ini dapat semakin dikembangkan dan diangkat sebagai kebanggaan desa yang mempromosikan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Dalam kegiatan ini warga dari berbagai latar belakang umat beragama turut terlibat. Desa Mojorejo juga merupakan representasi dari desa yang menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. Di sini, umat beragama hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai satu sama lain. Hal ini terlihat dari adanya tradisi-tradisi keagamaan yang dilaksanakan oleh umat beragama yang berbeda di Desa Mojorejo, seperti tradisi Pindapatta yang melibatkan umat Buddha, maupun perayaan bulan Ramadan yang dihadiri oleh umat Muslim dan non-Muslim. Dengan adanya kerukunan umat beragama yang terjaga dengan baik, Desa Mojorejo menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mengembangkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama.
Upaya promosi praktik baik desa kerukunan umat beragama di Mojorejo di atas adalah hasil dari diskusi dan dialog dengan warga desa yang dilakukan pada 17 Maret 2023 di Balai Desa Mojorejo. Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Mojorejo, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Sesi FGD Pelatihan Aktivis Desa Mojorejo.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.
Di Desa Selorejo, pelestarian hutan menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Hutan Selorejo di lereng Gunung Kawi bersinggungan dekat dengan warga sejak sekian lama, baik sebagai sumber kehidupan, pemukiman, maupun memberi roh bagi adat istiadat masyarakat di sana. Hutan sebagai wilayah tangkapan air dan jika terjadi kerusakan (seperti kebakaran hutan yang sering terjadi), yang paling mendapat imbasnya adalah warga sekitar.
Pentingnya hutan bagi warga Selorejo menumbuhkan kepedulian kolektif warga terhadap pelestarian hutan. Sudah sekian lama, warga Selorejo terutama Dusun Gumuk dan dusun lain memiliki kesadaran tinggi untuk merawat hutan; mulai dari menjaga tegakan pohon, menanam pohon, menjaga sumber air, membentuk organisasi pengelola hutan, sampai memanfaatkannya menjadi destinasi ekowisata Bedengan. Seni budaya yang cukup dikenal di sana, yakni Wong Ireng, juga merupakan ekspresi simbolik dari semangat pelestarian hutan ini.
Semangat pelestarian hutan di Selorejo kini salah satunya dimotori oleh Tim Landak (Lembaga Adat Desa dan Konservasi) Desa, Kepala Desa, bersama seluruh warga dari berbagai dusun. Kebersamaan dan gotong-royong masyarakat Desa Selorejo turut mempengaruhi keberhasilan praktik pelestarian hutan. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Mereka memahami bahwa menjaga hutan bukanlah tanggung jawab satu individu, kelompok, maupun dusun tertentu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.
Melalui praktik pengelolaan keragaman yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Selorejo telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga sumber daya hutan tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Selorejo tetap menjadi teladan dalam pelestarian hutan dan pengelolaan lingkungan yang baik.

Credit: Foto dari warga Selorejo.
Kegiatan pelestarian daerah aliran sungai dengan menanam pohon jenis fikus atau beringin di kawasan hutan Selorejo adalah salah satu praktik guyub rukun yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dalam membangun konservasi lingkungan, masyarakat Desa Selorejo memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian aliran sungai sebagai sumber mata air yang penting bagi kehidupan mereka dan generasi berikutnya.
Praktik guyub rukun menjadi kunci keberhasilan dalam kegiatan konservasi ini, karena masyarakat Desa Selorejo bekerja sama secara kolektif dalam menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan di sekitar daerah aliran sungai. Toleransi dan inklusi juga menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antara warga desa, sehingga praktik pelestarian hutan dan aliran sungai ini dapat berjalan dengan baik.
Melalui praktik konservasi yang baik dan dilakukan secara bersama-sama, masyarakat Desa Selorejo telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga aliran sungai dan hutan bukanlah tanggung jawab satu individu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif. Dengan mempraktikkan nilai-nilai guyub rukun, mereka dapat menjaga keberlangsungan lingkungan dan sumber daya alam yang ada di desa mereka, sehingga dapat mewariskan lingkungan yang baik dan lestari kepada generasi berikutnya.

Credit: Foto dari warga Selorejo
Pagelaran seni tari Wong Ireng tidak hanya merupakan sebuah hiburan semata, tetapi juga memiliki makna yang dalam dalam konteks pelestarian hutan. Sebagai simbol jogowono atau penjaga hutan yang menjadi sumber kehidupan warga, Wong Ireng menampilkan tarian dan musik yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Bulan Suro, saat Wong Ireng tampil untuk bersih desa, juga menjadi momen penting dalam upaya pelestarian hutan. Saat itulah masyarakat bersama-sama melakukan kegiatan membersihkan lingkungan sekitar dan menanam pohon di sekitar hutan. Wong Irengan menjadi bagian dari upacara ini, mengiringi masyarakat dengan permainan gamelan yang meriah dan semarak.
Melalui kesenian Wong Ireng, masyarakat di Desa Selorejo dapat mengapresiasi keindahan alam sekitar dan memperkuat rasa memiliki terhadap hutan. Dalam konteks pelestarian hutan, kesenian Wong Irengan dapat menjadi alat untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alam secara lestari.
Sebagai simbol jogowono, Wong Ireng juga memainkan peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dalam menjaga hutan. Melalui permainan gamelan yang melibatkan banyak orang, Wong Ireng membantu membangun rasa solidaritas dan kebersamaan di antara masyarakat desa, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam upaya menjaga dan melestarikan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Credit: Foto dari warga Selorejo.
Kegiatan menanam pohon oleh warga Selorejo yang dimotori Tim Landak di wilayah Bedengan merupakan salah satu bentuk praktik pelestarian hutan yang dilakukan oleh warga Desa Selorejo. Dalam pelaksanaannya, semangat guyub rukun dan inklusi sangat terlihat, karena semua warga desa terlibat aktif dalam kegiatan ini. Dalam menjaga kelestarian hutan, warga Desa Selorejo memahami bahwa mereka harus bekerja sama dan saling membantu. Kegiatan menanam pohon yang dilakukan oleh warga Selorejo merupakan contoh nyata dari semangat guyub rukun dan inklusi tersebut.
Selain itu, kegiatan Tim Landak juga dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk terlibat dalam pelestarian hutan. Dengan cara ini, semangat guyub rukun dan inklusi yang terbangun dalam masyarakat Desa Selorejo dapat menyebar ke seluruh masyarakat di sekitar hutan. Hal ini sangat penting, karena pelestarian hutan tidak bisa dilakukan oleh satu individu saja, melainkan harus melibatkan semua pihak yang terlibat.
Destinasi wisata hutan dan wisata memetik jeruk di Desa Selorejo juga dapat menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa setempat. Dengan menjaga kelestarian hutan dan memperhatikan aspek-aspek lingkungan lainnya, Desa Selorejo dapat mempertahankan keindahan alamnya dan menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang menarik. Dengan cara ini, masyarakat desa dapat mengembangkan ekonomi lokal mereka, sambil tetap memperhatikan kelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya.

Credit: Foto dari warga Selorejo
Wujud pelestarian hutan oleh warga Selorejo juga bukan hanya dalam soal fisik, namun juga kultural. Salah satunya adalah upacara selametan sumber atau selametan alas. Pada prinsipnya acara ini untuk mensyukuri apa yang telah diberikan oleh alam, hutan, dan sumber air serta meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa untuk tetap menjaga alam lingkungan tetap lestari. Warga desa Selorejo dalam acara ini membawa makan masing-masing (bancakan) ke masing-masing sumber air yang ada di hutan desa Selorejo setiang Bulan Suro. Kegiatan tradisi ini membangkitkan kesadaran warga akan pentingnya sumber air dan hutan sebagai penjaga ekosistemnya. Inilah salah satunya sampai saat ini warga Selorejo memiliki kesadaran tinggi mengenai pelestarian lingkungan.
Selametan tersebut biasanya digelar di titik utama sekitar punden desa di wilayah Bedengan. Warga seringkali merawat dan membersihkan punden tersebut. Pada tahun 2022, warga desa bersama mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pembersihan punden tersebut. Punden ini yang terletak di dalam hutan ini dianggap sakral oleh warga setempat. Menjaga hutan sebagai tempat sakral sangat penting untuk mempertahankan keberlangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya, termasuk hewan dan tumbuhan yang menjadi bagian dari ekosistemnya.
Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan menjadi suatu keharusan agar keanekaragaman hayati di dalamnya dapat terjaga. Selain itu, menjaga hutan juga penting untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia karena hutan adalah sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia, termasuk sebagai tempat penyerap karbon dan penghasil oksigen. Dengan menjaga hutan, maka akan tercipta keseimbangan alam yang sehat untuk keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
Praktik baik pelestarian hutan di Selorejo di atas dalah hasil dari diskusi dan dialog dengan warga desa yang dilakukan pada 15 Maret 2023 di Balai Desa Selorejo. Dalam kegiatan yang kita sebut pelatihan penggerak desa di Desa Selorejo ini terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Sesi FGD Pelatihan Aktivis Desa Selorejo.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa. Hasil dari pelatihan inilah salah satunya kita wujudkan menjadi booklet ini.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.
Desa Jambuwer memang terkenal dengan praktik baiknya dalam membangun kebersamaan dan toleransi antarwarga. Acara tahunan “bersih dusun” yang diselenggarakan oleh lima dusun (Krajan, Glagaharum, Bulupogog, Cakruk’an, Rekesan) di Desa Jambuwer menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dan guyub rukun sangat dikedepankan dalam masyarakat ini.
Dalam acara bersih desa, seluruh warga dari lima dusun bergiliran membersihkan lingkungan desa dan melakukan sedekah bumi. Tak hanya itu, mereka juga saling membantu dalam menyiapkan kebutuhan acara, mulai dari persiapan makanan, dekorasi, hingga kegiatan kesenian yang memeriahkan acara tersebut. Semua warga saling bahu-membahu dan bekerja sama tanpa memandang perbedaan status dan agama.
Toleransi dan inklusi juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam praktik baik masyarakat Desa Jambuwer. Warga dari berbagai agama hidup berdampingan secara harmonis, saling menghormati dan membantu satu sama lain. Mereka memahami bahwa keragaman bukanlah sebuah hambatan, tetapi sebuah kekayaan yang harus dijaga dan dihargai bersama.
Dalam mengkoordinir acara bersih dusun yang berlangsung selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Jambuwer telah menunjukkan bahwa praktik pengolahan keragaman yang baik dan berhasil guna dapat membentuk kekuatan solidaritas yang kuat. Kebersamaan dan guyub rukun yang terjalin antarwarga telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan penuh kebahagiaan. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Kesenian dapat memainkan peran penting dalam memperkuat nilai kebersamaan masyarakat desa, seperti yang terlihat dalam ritual Langen Beksan di Desa Jambuwer yang dipentaskan dalam menyambut acara bersih dusun. Tarian ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi simbol dari persatuan dan kesatuan masyarakat desa.
Para penari dan seniman dari berbagai lapisan masyarakat desa berpartisipasi dalam ritual ini, menampilkan tarian Langen Beksan yang indah dan mengagumkan. Dalam pertunjukan ini, gendingan yang mengiringi tarian diyakini dapat mengusir datangnya bencana, sehingga seluruh masyarakat desa merasa aman dan tentram.
Selain itu, ritual Langen Beksan juga berfungsi sebagai sarana untuk memupuk rasa kebersamaan dan persatuan di antara masyarakat desa. Dengan berpartisipasi dalam pertunjukan tarian bersama-sama, para anggota masyarakat desa dapat membangun ikatan sosial yang kuat dan memperkuat hubungan interpersonal yang harmonis.
Terakhir, ritual Langen Beksan juga menjadi upaya untuk melestarikan budaya dan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat desa. Dengan terus mempraktikkan ritual ini secara berkala, masyarakat desa dapat memastikan bahwa budaya dan tradisi mereka tidak hilang, tetapi tetap terjaga dan diteruskan ke generasi mendatang.
Dalam kesimpulannya, kesenian dapat memainkan peran penting dalam memperteguh nilai kebersamaan masyarakat desa. Seperti halnya dalam ritual Langen Beksan, kesenian dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan interpersonal, memupuk persatuan dan kesatuan, serta melestarikan budaya dan tradisi yang merupakan identitas dari masyarakat desa.

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Mbok Bilih Tirto Wening adalah sebuah ritual kebersihan di Desa Jambuwer yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas sumber air bersih yang mengalir di sungai. Tradisi ini dilaksanakan di pagi hari di sepanjang aliran sungai yang menjadi sumber air bersih tersebut. Selama acara ini berlangsung, masyarakat desa bekerja sama membersihkan area sekitar sungai dari sampah dan lumpur serta membersihkan saluran air yang ada di sekitar desa. Dalam pelaksanaannya, tradisi Tirto Wening mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan persatuan, yang tercermin dari partisipasi aktif masyarakat desa dalam menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air. Sebagai salah satu upaya untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkuat guyub rukun di antara warga desa, kegiatan ini diadakan secara rutin setiap tahunnya.

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Terdapat satu acara yang selalu dinanti-nanti oleh masyarakat perdusunan Desa Jambuwer, yaitu agenda memasak ‘jenang’ untuk menyambut tradisi bersih dusun. Meskipun hanya dilakukan sekali dalam setahun, acara ini memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat, karena selain untuk persiapan sehari sebelum acara bersih desa dan sedekah bumi, acara ini juga menjadi ajang kebersamaan dan guyub rukun yang membentuk kekuatan solidaritas yang tak tergoyahkan di antara mereka. Ketika semangkuk jenang hangat dihidangkan, masyarakat merasakan kehangatan dan kebersamaan yang tak tertandingi, dan dengan hati penuh syukur, mereka bersama-sama merayakan kebersamaan dan menjalin persahabatan yang abadi.

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Bancakan pada acara bersih dusun bukan hanya sebuah acara makan bersama, tetapi lebih dari itu, yaitu momen yang menunjukkan kekuatan guyub rukun dalam kehidupan masyarakat Desa Jambuwer. Selama bancakan, warga saling berbagi cerita, saling mengenal satu sama lain, dan saling menghargai keberadaan sesama anggota masyarakat desa.
Dalam suasana kebersamaan dan harmoni yang tercipta, masyarakat desa merasa lebih kuat dan berdaya untuk menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan yang mungkin muncul di kemudian hari. Dengan mengedepankan nilai-nilai gotong royong dan persatuan, mereka dapat menyelesaikan masalah dengan lebih mudah dan efektif.
Selain itu, bancakan juga menjadi sarana untuk memupuk rasa syukur kepada para leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam momen ini, warga Desa Jambuwer menghormati dan mengenang jasa-jasa para leluhur dalam membangun dan mempertahankan kehidupan di desa mereka. Dengan menunjukkan rasa syukur yang tulus, mereka berharap agar para leluhur senantiasa memberikan perlindungan dan keberkahan bagi kehidupan masyarakat desa.
Dalam kesimpulannya, bancakan dalam rangkaian kegiatan bersih dusun merupakan bukti nyata betapa pentingnya guyub rukun dalam kehidupan masyarakat desa. Melalui momen sakral ini, warga Desa Jambuwer dapat memperkuat hubungan sosial dan kekeluargaan, memupuk rasa syukur, dan menghormati para leluhur. Dengan menjaga nilai-nilai ini, masyarakat desa dapat terus hidup dalam kebersamaan dan harmoni, serta mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul di masa depan.
Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Jambuwer, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Pakar pemberdayaan memahamkan cara mengoptimalkan potensi praktik baik yang ada di desa dan membangun kerjasama yang harmonis antarwarga, sementara pakar media membahas cara mengkomunikasikan pesan-pesan penting praktik baik kepada masyarakat melalui media yang efektif. Fasilitator memandu peserta dalam menyusun strategi penyebarluasan praktik baik, baik itu secara door-to-door ataupun melalui acara komunal dengan bantuan media peraga yang dipilih. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Foto salah satu kelompok FGD pada Pelatihan Aktivis Desa Jambuwer. Sumber Foto: Wargakarta.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.
Di Desa Madiredo, praktik pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kebersamaan dan gotong-royong masyarakat Desa Madiredo turut mempengaruhi keberhasilan praktik pengelolaan sampah. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Mereka memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukanlah tanggung jawab satu individu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.
Melalui praktik pengelolaan sampah yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Madiredo telah menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. Mereka memahami bahwa membuang sampah sembarangan akan merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, mereka melakukan pengelolaan sampah yang baik, seperti memilah sampah organik dan anorganik, serta mengolah sampah organik menjadi pupuk. Semoga praktik pengelolaan sampah baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Madiredo tetap menjadi teladan dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan yang baik.

Credit: Foto dari warga Madiredo.
Desa Madiredo telah mempraktikkan pengelolaan sampah yang baik dan berhasil. Masyarakat di sana telah memanfaatkan sampah organik sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan media tanam, sehingga mereka dapat memanen hasil tanaman toga yang subur dan sehat.
Seperti yang terlihat pada foto tersebut, area di sekitar tanaman toga dipercantik dengan bekas botol minum yang diwarna dan disusun dengan rapi. Sampah non-organik tersebut diolah menjadi sesuatu yang berguna dan menambah estetika lingkungan. Kontribusi anggota ibu-ibu PKK dalam menciptakan produk kerajinan merupakan nilai tambah pengolahan sampah yang bermanfaat.
Selain keuntungan lingkungan, pengolahan sampah juga memberikan manfaat ekonomi. Masyarakat di Desa Madiredo telah menciptakan lapangan kerja baru dengan membuka usaha pengolahan sampah. Mereka mengumpulkan sampah dari warga sekitar dan menjual produk-produk yang dihasilkan dari olahan sampah, seperti pupuk organik dan produk hiasan dari sampah non-organik.
Dengan pengelolaan sampah yang baik dan berhasil, Desa Madiredo juga telah mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan dan kesehatan. Sampah yang diolah secara tepat dapat mengurangi polusi udara, air, dan tanah yang diakibatkan oleh pembakaran dan pembuangan sampah sembarangan.
Kegiatan Perintisan TPST 3R Pertama

Credit: Foto dari warga Madiredo.
Praktik baik pengelolaan sampah ini membawa dampak positif yang besar bagi lingkungan sekitar. Selain mengurangi jumlah sampah yang dibuang sembarangan dan mengurangi dampak negatif bagi lingkungan, praktik ini juga memperkuat ikatan sosial antar warga. Konsep guyub rukun, yang merupakan filosofi hidup masyarakat Jawa, menjadi kunci sukses dalam implementasi pengelolaan sampah di Desa Madiredo.
Guyub rukun merupakan prinsip hidup yang menekankan pentingnya kebersamaan dan saling membantu dalam membangun lingkungan yang harmonis dan sehat. Dalam konteks pengelolaan sampah, masyarakat Desa Madiredo berusaha untuk selalu bekerja sama dan gotong-royong dalam menjaga lingkungan sekitar. Dalam pelaksanaannya, para warga saling membantu untuk memilah sampah dan membuangnya pada tempatnya.
Praktik baik ini membawa dampak positif tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan warga. Dengan pengelolaan sampah yang baik, masyarakat Desa Madiredo dapat memastikan kualitas udara dan air yang lebih baik. Selain itu, pengolahan sampah organik menjadi pupuk juga memberikan manfaat bagi pertanian dan perkebunan, sehingga warga dapat menanam tanaman organik dengan mudah dan menghasilkan produk yang sehat dan berkualitas.
Semoga keberhasilan pengelolaan sampah di Desa Madiredo dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk mengadopsi praktik baik guyub rukun dan lingkungan sehat. Dengan membangun lingkungan yang sehat dan harmonis, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik dan lestari bagi generasi yang akan datang.

Credit: Foto dari warga Madiredo.
Kegiatan mengolah limbah merupakan pekerjaan yang penting dan mulia untuk pelestarian lingkungan dan kesehatan. Bu Jumiah dan Rani adalah contoh dari para pekerja yang melakukan tugas ini dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Dalam foto tersebut, terlihat bahwa mereka memilah jenis-jenis sampah organik dengan teliti dan memisahkan jenis sampah berdasarkan warna dan jenisnya.
Proses pemilahan ini memungkinkan untuk memudahkan proses daur ulang dan pengolahan limbah. Para pekerja di TPST biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memilah sampah organik dengan teliti dan memeriksa setiap item sampah. Namun, upaya ini sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat, serta mengurangi dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh limbah pada kesehatan manusia dan lingkungan sekitar.

Credit: Foto dari warga Madiredo.
Foto di atas menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah yang baik bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau instansi terkait, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga desa. Dalam praktik keguyuban dan kebersihan lingkungan, bank sampah memegang peranan yang sangat penting.
Bank sampah di Desa Madiredo merupakan sebuah lembaga yang bertujuan untuk meminimalisir timbulan sampah dan meningkatkan pengelolaan sampah yang lebih baik. Bank sampah mendorong masyarakat untuk memilah sampah dan memanfaatkannya kembali menjadi barang yang berguna. Dalam hal ini, bank sampah tidak hanya menjadi tempat pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi tempat pembelajaran dan pengenalan tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik bagi lingkungan.
Melalui praktik keguyuban dan pengelolaan sampah yang baik, warga Desa Madiredo dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan lestari. Semoga semangat gotong-royong dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik terus ditingkatkan, sehingga Desa Madiredo dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam memelihara kebersihan lingkungan.
Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Madiredo, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Pakar pemberdayaan memahamkan cara mengoptimalkan potensi praktik baik yang ada di desa dan membangun kerjasama yang harmonis antarwarga, sementara pakar media membahas cara mengkomunikasikan pesan-pesan penting praktik baik kepada masyarakat melalui media yang efektif. Fasilitator memandu peserta dalam menyusun strategi penyebarluasan praktik baik, baik itu secara door-to-door ataupun melalui acara komunal dengan bantuan media peraga yang dipilih. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Sesi FGD Pelatihan Aktivis Desa Madiredo.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.