Survei bertujuan untuk menggali informasi awal tentang praktik baik masyarakat dalam mengelola keragaman. Tentukanlah wilayah yang menjadi kegiatan pengabdian masyarakat.
Dalam tahap ini, lakukanlah wawancara kepada pamong desa dan pemuka masyarakat setempat. Catatlah potensi praktik baik berdasarkan perspektif mereka dan jadikan informan penting sebagai narahubung kegiatan.
Hasil survei tersebut akan diuji dalam tahap pemetaan potensi praktik baik.
Mendapatkan gambaran umum dalam rangka pemetaan potensi pratik baik di desa berlandaskan konteks keberagaman.
Wawancara dan observasi.
Buku catatan, kamera, dan perekam suara/ponsel yang dilengkapi fitur perekam suara.
Tentukan desa yang akan dijadikan kegiatan praktik baik.
Lakukan survei dan pencatatan potensi praktik baik.
Jalin hubungan baik dengan tokoh dan aktivis desa.
Ajak tokoh dan aktivis desa mengikuti program pelatihan pemetaan potensi praktik baik.
Aktivis desa yang terlibat aktif dalam praktik baik di desa tersebut dikumpulkan di dalam Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT).
Jumlah peserta sebaiknya merepresentasikan unsur- unsur kemasyarakatan desa seperti: Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kelompok Tani dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan kelompok-kelompok lain.
Dalam FGD nantinya, mereka akan diberikan pokok-pokok wawasan keragaman untuk mengeksplorasi nilai praktik baik berlandaskan keragaman, kerukunan, dan inklusivitas yang terangkum dalam tradisi atau praktik baru di desa mereka.
Luaran dari tahap ini akan diformulasikan pada tahap berikutnya sebagai bahan “promosi” yang akan disebarluaskan kepada masyarakat.
Sangat diharapkan bahwa kesepuluh warga desa yang terlibat dalam sesi ini merupakan para aktivis yang sehari- hari benar-benar menerapkan praktik baik.
Menganalisis potensi pratik baik di desa berlandaskan konteks keberagaman untuk kemudian dipromosikan kepada masyarakat yang lebih luas.
Metode pelatihan menggunakan Focus Group Discussion (FGD) dengan komposisi: 10 orang anggota dan 1 orang fasilitator.
Pokok-pokok hasil FGD tiap kelompok dirangkum dalam flow chart (bagan pemetaan praktik baik) yang akan menjadi bahan acuan diskusi dalam sesi “Pelatihan Aktivis Desa” untuk memproduksi media promosi.
Kertas plano, spidol, laptop, dan LCD.
Fasilitator, selaku moderator, membuka forum dan menyelenggarakan pemilihan ketua kelompok diskusi.
Diskusikan potensi praktik baik dengan mempertimbangkan hal- hal di bawah ini:
Setelah hal-hal tersebut dirumuskan, proyeksikan poin- poin di atas menjadi “Bagan Pemetaan Praktik Baik” di kertas plano di bawah ini. Tuliskan pokok-pokok diskusi mengikuti nomor urut.
Setelah “Bagan Pemetaan Praktik Baik” berhasil disusun, perwakilan kelompok mempresentasikan hasil FGD kepada peserta lain untuk mendapatkan masukan.
Simpan dan dokumentasikan bagan di atas. Gunakan bagan ini menjadi bahan diskusi media promosi praktik baik dalam kegiatan pelatihan aktivis desa.
Warga desa yang mengikuti pelatihan aktivis desa dibagi menjadi beberapa kelompok. Idealnya, jumlah rasio peserta dan fasilitator adalah 5:1. Jadi, setiap lima orang peserta, terdapat satu orang fasilitator.
Tiap kelompok dilatih untuk memproduksi media promosi praktik baik. Contoh kata kunci praktik baik yang umumnya ditemukan di desa-desa misalnya pengelolaan lingkungan, pengelolaan sumber daya bersama, budaya dan tradisi, serta kerukunan beragama.
Media promosi diproduksi untuk menggambarkan pemahaman warga desa atas substansi praktik baik dan pentingnya praktik baik.
Media promosi tersebut bisa berupa poster, kalender, video, foto, infografis, komik, website, media sosial, dan media populer lainnya.
Fasilitator berperan untuk menggerakkan warga memproduksi media promosi praktik baik di masing-masing desa sekaligus membantu dalam melakukan penyebarluasan media promosi.
Merancang media promosi praktik baik.
Diskusi kelompok terpumpun atau FGD. Rasio jumlah peserta dan fasilitator 5:1.
Kertas plano, dokumen visual, proyektor, laptop.
Pengumpulan Foto
Peserta mengumpulkan foto yang berhubungan dengan bagan praktik baik yang telah dirumuskan. Setiap kotak perlu diwakili dengan foto-foto (3-5 foto) yang berhubungan dengan isi bagan.
Penilaian Foto
Peserta dapat menggunakan lembar tabel penilaian (bisa dibuat melalui aplikasi Power Point/Excel) untuk me-review (check list) dokumen visual seperti foto atau gambar yang mengacu kepada kata kunci: media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, budaya dan tradisi. Berilah judul pada setiap hasil review.
Seleksi Foto
Peserta mendiskusikan foto-foto terbaik yang paling berkualitas untuk mempromosikan
praktik baik. Pemilihan foto dapat dilakukan dengan mempertimbangkan dari segi konten dan komposisi. Kelompok dapat memilih 13-15 foto dengan pertimbangan berikut ini:
Membuat Judul Foto
Tampilkan foto melalui proyektor. Fasilitator memandu peserta untuk berdiskusi, mengacu kepada kata kunci praktik
baik. Peserta diajak untuk mengeksplorasi kata kunci yang selanjutnya dikembangkan menjadi narasi praktik baik.
Desain Produk Promosi
Diskusikan pengembangan produk media promosi praktik yang efektif (contoh: kalender, flyer, zine, poster, dsb), sesuaikan dengan kebutuhan, dan berbiaya murah. Proses pembuatan desain dapat menggunakan aplikasi- aplikasi yang tersedia, misalnya: Power Point, Canva, Photoshop, Photo Grid, B612.
Peserta terlatih bertanggung jawab untuk menyebar- luaskan media praktik baik kepada masyarakat. Cakupan lokasi dan jumlah penerima media promosi sebaiknya disesuaikan dengan ranah kegiatan program dan jumlah peserta pelatihan.
Media promosi praktik baik dapat tersebar luas. Secara spesifik, gethok tular bertujuan agar semakin banyak orang mengetahui praktik baik yang eksis di desanya masing- masing. Sehingga, diharapkan banyak warga desa tertarik untuk terlibat aktif dalam praktik baik berkelanjutan.
Simulasi pembentukan koordinator, tim lapangan gethok tular, dan relawan mahasiswa.
Produk promosi (kalender, flyer, zine, poster, dsb), alat tulis dan peralatan dokumentasi.
Fasilitator memandu peserta pelatihan untuk menentukan jumlah penerima informasi. Idealnya, rasio jumlah penerima media promosi praktik baik adalah 5:1 berdasarkan jumlah peserta pelatihan. Contoh: jika peserta pelatihan gethok tular 80 orang maka jumlah penerima informasi adalah 400 orang.
Fasilitator menginisiasi kelompok. Selanjutnya, tiap-tiap kelompok memilih koordinator kelompok. Langkah selanjutnya adalah menentukan metode gethok tular. Misalnya, bertamu (door to door) atau melalui forum warga seperti rapat RT, kegiatan kerja bakti, dan arisan. Koordinator bertanggung jawab memimpin kampanye praktik baik di satu lokasi.
Fasilitator menerangkan tugas pada koordinator kelompok dan tim lapangan gethok tular. Koordinator memberikan pengarahan kepada tim lapangan untuk menyebarluaskan media promosi sesuai target yang telah ditentukan.
Koordinator menempatkan tim lapangan berdasarkan pengetahuan terkait medan sosial, aksesibilitas, dan efektivitas jarak.
Koordinator mengevaluasi program gethok tular. Jika jumlah penerima tidak memenuhi target, pelajari penyebabnya dan cari solusi bersama tim lapangan untuk menyebarkan media promosi kembali.
Diseminasi adalah kegiatan mempresentasikan praktik baik kepada publik. Oleh sebab itu, alangkah baiknya, program ini mengambil tempat di ruang publik.
Idealnya, acara ini dilaksanakan apabila promosi praktik baik pengelolaan keragaman melibatkan lebih dari satu desa, sehingga antar desa yang menjadi peserta Program Sekolah Keragaman II dapat berbagi pengalaman dan bertukar wawasan tentang praktik baik di desa masing- masing.
Bentuk acara dapat disesuaikan berdasarkan potensi sumber daya desa peserta, seperti menyelenggarakan talkshow atau menggelar sarasehan.
Mempresentasikan kegiatan promosi prkatik baik kepada publik.
Talkshow atau sarasehan.
Bentuk kepanitian bersama fasilitator dan warga desa penerima program.
Diskusikan metode diseminasi yang tepat sesuai dana dan sumber daya manusia yang ada. Utamakan penyampaian substansi praktik baik pada masyarakat alih-alih menciptakan acara besar yang mengutamakan kemeriahan.
Tentukan sasaran dan jumlah undangan. Pertimbangkan untuk mengundang aktivis, akademisi, jurnalis, dan perwakilan pemerintah agar “praktik baik” lebih dikenal lebih luas dan dapat dijadikan percontohan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Fasilitator mengumpulkan produk promosi praktik baik setiap desa peserta Sekolah Keragaman II. Produk promosi tersebut dapat berupa foto dokumentasi, poster, kalender dan lain sebagainya. Selanjutnya, produk-produk tersebut dapat diikutsertakan/ dipamerkan dalam acara diseminasi dan menjadi bahan diskusi.