Perkembangan industri yang terus meningkat kini telah memasuki era 4.0. Sebagian besar pekerjaan menggunakan sistem digital. Kemajuan ini harus diimbangi dengan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat. Untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, pemerintah memberikan hak yang sama kepada setiap orang, baik dari segi gender, agama, ras, ekonomi, dan lain sebagainya. Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan dengan adanya beasiswa bidikmisi untuk masyarakat kurang mampu. Akan tetapi, pada kenyataannya, pendidikan masyarakat Indonesia masih belum merata. Salah satu penyebabnya yaitu masih kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan, karena masih terikat pada perspektif kuno. Perspektif ini banyak ditemui pada masyarakat yang bertempat tinggal di pedesaan.

Salah satu perspektif kuno yang masih menjangkiti masyarakat adalah tidak pentingnya pendidikan bagi seorang wanita. Pandangan ini sangat kuat tertanam di pemikiran masyarakat desa sehingga cukup sulit bagi para perempuan desa sendiri untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini diperparah lagi karena adanya permasalahan ekonomi keluarga, sehingga para orang tua lebih menyarankan anak perempuannya bekerja agar dapat membantu perekonomian keluarga daripada melanjutkan pendidikan. Pemikiran ini disebabkan karena mengingat posisi wanita yang pada akhirnya berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Terdapat sebuah penelitian (Nasir, 2017) yang mengkaji kesenjangan pendidikan di Desa Ululakara berdasarkan gender: wanita dan pria. Berdasarkan data yang tercatat di kantor desa tersebut, anak wajib sekolah (AWS) dengan sebaran ditinjau dari usia, jenjang pendidikan, dan jenis kelamin, didapatkan hasil bahwa jumlah AWS perempuan menduduki posisi terendah bila dibandingkan dengan jumlah AWS laki- laki. Tercatat jumlah anak masih sekolah pada data kantor Desa Ululakara sebanyak 19 orang perempuan dan 23 orang laki-laki dengan rentang usia 5-7 tahun. Kesenjangan akses pendidikan ini akan terus terlihat sejalan dengan pertambahan sebaran usia. Hasil riset menyebutkan, sebanyak 53 laki-laki dan 22 perempuan yang masih bersekolah di rentang usia 16-18 tahun.

Saya mencoba melakukan riset dengan observasi dan wawancara di kampung halaman saya, Majalengka, Jawa Barat. Fokus riset yakni sebuah sekolah khusus wanita di sana. Selain wawancara, data juga berasal dari pengalaman pribadi selama tiga tahun bersekolah di sekolah tersebut. Terdapat sekitar enam narasumber di antaranya yaitu guru pembimbing akademik, guru bimbingan konseling, alumni yang sedang bekerja, alumni yang tidak bekerja, dan alumni yang berkuliah serta siswi aktif.

Selama proses riset, saya menemukan perbedaan pendapat mengenai pentingnya pendidikan bagi seorang wanita di masyarakat. Masih banyak masyarakat desa yang tidak mementingkan pendidikan bagi kaum wanita dan hanya mementingkan pendidikan bagi kaum laki-laki. Alasan mengapa pendidikan seorang laki-laki lebih penting, karena seorang laki-laki akan diberikan tanggung jawab yang besar dalam menghidupi keluarga atau disebut dengan tulang punggung keluarga.

Para siswi sekolah khusus wanita ini, baik alumni maupun yang masih aktif bersekolah sebenarnya merasakan adanya perspektif kuno di lingkungan keluarganya masing-masing. Pemikiran mengenai tidak pentingnya pendidikan bagi seorang wanita ini menjadikan para orang tua bersikap berbeda pada anak perempuannya. Kebanyakan orang tua lebih menyarankan anak perempuannya bersekolah di sekolah yang murah atau yang berorientasi langsung bekerja selepas lulus.

Salah satu sasaran sekolah yang dituju adalah sekolah khusus wanita. Hal ini disebabkan sekolah tersebut menyediakan pelajaran tambahan untuk melatih keterampilan dalam bidang merajut dan memasak. Selain itu juga, untuk bersekolah di sana tidak dipungut biaya sepeser pun. Banyak siswi dari sekolah khusus wanita ini sebenarnya sangat menginginkan untuk mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka merasa bahwa pendidikan akan membuat diri lebih baik, menjadi seorang yang kritis, beretika, berilmu, dan yang paling penting dapat meninggikan derajat dirinya maupun orang tua. Pemikiran tersebut saya temui pula secara langsung selama bersekolah di sana.

Sebenarnya, banyak siswi yang masuk dalam kategori memenuhi syarat untuk dapat mengajukan dirinya di Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Akan tetapi, mereka bahkan tidak ingin mencoba mendaftar dan membuang peluang tersebut. Sementara, sekolah tersebut menyediakan bimbingan belajar (bimbel) secara gratis untuk mempersiapkan para siswinya agar berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri. Namun, tidak banyak yang mengikuti bimbel tersebut bahkan tidak ada separuh dari total keseluruhan siswi.

Adapun data yang didapatkan mengenai total jumlah siswi yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yakni sebanyak 40 lebih siswi dari total siswi keseluruhan sebanyak 140 siswi. Seratus siswi lainnya memilih untuk bekerja dan menikah. Hal ini sangat berbahaya bila terus terjadi karena akan meningkatkan jumlah pengangguran di Indonesia. Selain itu, menginggat dunia kerja maupun lingkungan luar yang berbeda dengan lingkungan sekolah akan membuat siswi rentan mengalami culture shock. Hal ini dibuktikan dari adanya keluhan para siswi yang ingin kembali ke masa SMA. Mereka terkadang frustrasi atas keadaan lingkungan kerja dan masyarakat karena mereka belum disiapkan untuk masuk ke lingkungan tersebut.

Banyaknya siswi yang tidak ingin melanjutkan kuliah, dikarenakan mereka tidak mendapatkan izin dari pihak keluarga untuk melanjutkan kuliah. Di antara mereka bahkan sempat berkeinginan untuk kuliah dengan mengikuti bimbel secara rutin. Akan tetapi, persiapan itu berakhir karena orang tua mereka tetap tidak mengizinkan mereka mendaftar SNMPTN.

Minimnya kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak perempuannya, dapat dibuktikan dari kehadiran mereka dalam rapat wali murid yang diadakan oleh sekolah. Orang tua dari beberapa siswi bahkan enggan meluangkan waktunya untuk sekadar menyimak pemaparan dari pihak sekolah mengenai dunia perkuliahan. Pada studi kasus ini, saya menemukan cerita bahwa masih ada orang tua yang melarang putrinya kuliah meskipun sang anak sudah diterima masuk perguruan tinggi negeri.

Lingkungan keluarga yang memiliki perspektif bahwa wanita tidak perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi sangat mempengaruhi sikap anak (Incing, 2013). Saya banyak menemukan siswi-siswi yang berada di lingkungan tersebut memiliki sikap pendiam, kurang percaya diri dalam belajar, berpikiran kolot dan lain sebagainya. Lingkungan seperti itu yang menjadikan seorang anak perempuan tidak dapat memunculkan kreativitas yang ada pada dirinya. Mereka tampak cenderung tidak ingin keluar dari zona nyamannya dan hanya menginginkan sesuatu yang bisa didapatkan secara praktis.

Apabila pendidikan seorang wanita selalu dianggap tidak penting, maka akan banyak wanita di luar sana yang menderita. Penderitaan ini disebabkan karena adanya pandangan merendahkan posisi para wanita sehingga menjadikan wanita sebagai target eksploitasi dan kejahatan. Selain itu, akan sulit bagi wanita untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masalah dan kasus sosial ekonomi yang sebagian besar korbannya adalah kaum wanita. Tidak sedikit wanita yang menjadi seorang pengemis di usia muda. Saya menemukan banyak wanita yang mengemis dibandingkan laki-laki di lingkungan sekitar saya. Bahkan, saya menemukan anak perempuan sedang meminta uang ke setiap pedagang kaki lima. Selain itu, bila pendidikan wanita dianggap tidak penting akan berpengaruh pada kualitas generasi berikutnya. Terdapat penelitian (Mugianti, 2018) yang menyatakan bahwasannya 48,4% penyebab anak mengalami stunting adalah dari pendidikan ibu yang rendah.

Adapun faktor lain yang menjadi penyebab orang tua memiliki anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak penting untuk anak perempuan yakni karena adanya keresahan dan ketakutan dari orang tua sendiri. Mereka takut pada biaya kuliah yang sangat mahal. Selain itu, mereka merasa bahwa gelar sarjana tidak menjadi suatu jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Apalagi di tengah masyarakat, banyak orang-orang yang hanya lulusan SMK atau SMA mendapatkan gaji yang lebih besar dibandingkan seorang sarjana.

Akan tetapi, pentingnya pendidikan tinggi bukan hanya dari besaran gaji yang diterima sarjana. Bila kita mau mengamati kembali, banyak orang berpendidikan tinggi memiliki gaji yang lebih besar, bahkan mereka berkompeten membuka lapangan pekerjaan. Namun, bukan itu yang diharapkan. Akses pendidikan bertujuan agar pemuda-pemudi bangsa ini memiliki wawasan yang luas. Itu yang dibutuhkan Indonesia dan hal tersebutlah yang diharapkan bagi setiap anak bangsa. Akan sia-sia rasanya bila orang tua menenggelamkan mimpi anak-anaknya hanya karena persoalan gaji semata.

Ada beberapa tindakan yang harus kita lakukan saat berada di lingkungan yang mayoritas anak-anaknya dididik oleh orang tua yang memiliki perspektif kuno tersebut. Pertama, kita harus menaruh kepercayaan kepada kemampuan para siswi. Dengan adanya kepercayaan yang ditanamkan, mereka akan merasa bahwa ada seseorang yang memihak kepada dirinya. Kedua, selalu berikan dukungan positif kepada mereka karena biasanya mereka mudah terpuruk atas suatu permasalahan. Dari kedua cara tersebut, yang terpenting adalah selalu tanamkan pada diri kita untuk selalu memiliki rasa peduli pada sesama. Karena, untuk memajukan negeri ini bukan hanya membutuhkan satu tangan saja, akan tetapi, dibutuhkan ribuan tangan untuk menopang negeri ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Incing, V., dkk. 2013. Kesenjangan Gender (Perempuang) Dalam Mendapatkan Pendidikan Pada Masyarakat Persedaaan. Junal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 2(1) hlm: 38-40.

Mugianti, S., dkk. 2018. Faktor Penyebab Anak Stunting Usia 25-60 Bulan Di Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Jurbal Ners dan Kebidanan. 5(2) hlm: 268-278.

Nasir dan Lilianti. 2017. Persamaan Hak: Partisipasi Wanita Dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Alam. 17(1) hlm: 36-46