Pernahkan Anda berpikir mengenai seberapa besar suatu keseragaman dapat memberikan pelajaran mengenai kehidupan? Pernahkah Anda berpikir bahwa keberagaman pada dasarnya adalah modifikasi dari keseragaman? Cara hidup, kebiasaan, dan adat istiadat setiap kelompok manusia, bahkan dalam satuan yang lebih kecil—individu—menyebabkan keseragaman berubah menjadi keberagaman yang indah. Lalu bagaimana bila kita berefleksi dari sebuah keseragaman?

Saya adalah seorang anak perempuan dari keluarga kelas menengah di lingkungan kota pendidikan, Malang. Selama belasan tahun, saya berbagi pandangan, berbagi kisah, dan berbagi keseragaman dengan adik saya. Kami adalah dua bersaudara yang memiliki latar belakang sepenuhnya sama, acuan teladan serupa, dan tentu saja pendidikan yang benar-benar sejalan.

Keseragaman. Itulah yang saya pikir kami punya. Selain konflik kecil tentang hal-hal yang sepele, tidak ada lagi tantangan berarti bagi persaudaraan kami yang terpaut perbedaan usia 3 tahun 4 bulan. Saya berpikir bahwa kami menjalani kehidupan dengan pola yang sama dan segala kebiasaan serupa, hingga pada masa pandemi Covid-19.

Seluruh sekolah diliburkan, termasuk sekolah kami. Saya dan adik saya yang sebelumnya hanya berinteraksi kurang lebih setengah hari, kini dipaksa untuk terus bertemu setiap jam dalam batas yang tidak ditentukan. Pandemi telah berjalan sepanjang dua tahun. Selama itulah kami bertemu setiap hari di bawah atap yang sama. Adik adalah satu-satunya yang bisa saya anggap sebagai teman “sebaya” di rumah.

Dari keseragaman yang kami punya, timbul satu hal yang mengusik perhatian saya, yaitu dalam bidang pendidikan. Saya menyadari bahwa sebagian besar pembicaraan saya dan adik adalah mengenai pendidikan. Mengenai guru-guru yang sama dan mata pelajaran yang dulu juga pernah saya tempuh. Namun sesuatu terasa mengganjal. Sesuatu yang tidak seragam.

Saya mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu lebih dalam mengenai ketidakseragaman yang mengganjal dalam hati saya dalam program Sekolah Keragaman. Saya tidak ragu untuk mengambil pendidikan sebagai tema dan adik saya sebagai narasumber. Saya mulai meneliti segala hal untuk menuntaskan rasa tidak nyaman dalam dada.

Saya mengambil langkah pertama dengan membangun sebuah percakapan tentang pendidikan, tentang apa yang kami lakukan sehari-hari—menempa ilmu. Berbagai keseragaman muncul di antara saya dan adik. Semua saya rasa sama hingga Albert—nama adik saya—bercerita mengenai festival budaya yang ia alami secara daring, tentang teman-temannya dari berbagai daerah yang kerap kali berkomunikasi dengannya meskipun tanpa pertemuan fisik.

Saya merasakan sesuatu yang berbeda. Di masa pengenalan siswa baru yang dialami secara daring oleh Albert, ia masih mampu mempertahankan hubungan pertemanannya melalui berbagai kegiatan bersama. Hal ini membuat saya menyadari bahwa suatu dialog sosial yang penuh keragaman masih sangat bisa dibangun pada masa sulit seperti ini.

Kita sebagai manusia sosial yang selalu ingin berinteraksi dengan orang lain akan lebih baik bila memanfaatkan media yang saat ini semuanya serba modern untuk mengembangkan dialog keberagaman. Tidak perlu takut melakukannya. Setiap orang harus mampu menerima dengan pikiran yang terbuka selebar-lebarnya. Setiap insan berpendidikan adalah mereka yang mampu membangun kontrol kepada pola pikirnya sendiri dan menghargai keberagaman ideologi pikiran insan lainnya.

Saya juga merasa bahwa ada hal positif yang dapat diambil di tengah wabah kali ini, yaitu belajar menghargai suatu dialog. Belajar memahami suatu budaya. Pendidikan adalah faktor krusial demi generasi penerus bangsa yang berkualitas. Inilah satu hal yang baru dapat saya sadari sekarang.

Selanjutnya, setelah memahami makna tersembunyi pendidikan di masa sulit seperti saat ini, masih ada hal yang mengganjal dalam hati saya. Kali ini saya tidak melakukan interaksi langsung, melainkan dengan melakukan pengamatan karena Albert sedang berada dalam masa Ujian Akhir Semesternya untuk pertama kali di SMA.

Menurut pemikiran saya, segala jenis ujian yang dikerjakan di rumah selama masa pendidikan daring ini tidak akan dilakukan dengan baik oleh setiap siswa. Saya sendiri mengalami masa ketika saya memilih untuk bertanya kepada teman ataupun mencari jawaban dari sumber-sumber yang sudah tersedia saja di internet. Hal ini baru saya pikirkan ketika saya juga menempuh pendidikan daring di masa kuliah.

Dengan pemikiran tersebut, saya mengintip Albert yang menjalankan ujian selama delapan hari di kamarnya. Saya awalnya skeptis, saya hanya mengamati sekilas di hari pertama hingga ketiga dan menganggap bahwa adik saya pasti mencari jawaban di internet. Namun pada sore hari, saya mendapati adik saya belajar dengan tekun mengenai materi ujian di keesokan harinya.

Saya mulai berpikir, apakah dia mengerjakan seluruh ujiannya sendiri? Saya mengamati lebih detail pada hari-hari berikutnya. Saya mulai merasa bahwa adik saya berbeda dengan saya. Ia tidak membuka buku pelajarannya atau mencari sumber di internet selama ujian. Di hari kelima saya mendapatinya memainkan ponsel dan ketika saya bertanya, Albert mengaku bahwa hari itu adalah pertama kalinya ia bertanya kepada guru lesnya mengenai materi ujian matematika yang tidak ia mengerti.

Di sekolah Albert yang juga dulunya sekolah saya, terdapat sistem remidi Ujian Akhir Semester bagi mereka yang mendapat nilai kurang baik. Semua nilai ujian akan dipublikasikan ke seluruh siswa secara transparan setelah ujian berakhir. Hari ini saya bertanya kepada adik saya, apakah ia mendapatkan remidi? Berapa hasil nilai ujiannya?

Adik saya dengan tenang menjawab bahwa dirinya tidak ikut remidi, namun nilainya memang bukan termasuk yang terbaik. Ia berada di tengah-tengah. Perkataan Albert membuat saya tersadar. Albert berkata bahwa setidaknya ia tidak mencontek dan bekerja sama selama ujian seperti yang dilakukan oleh teman-temannya di kelas.

Saya merasa sedikit malu dalam hati, karena hal itulah yang saya lakukan selama pembelajaran daring. Saya tidak belajar secara optimal di sistem pembelajaran daring, sehingga ilmu yang saya dapatkan juga tidak maksimal, tapi saya menuntut untuk hasil yang baik semata. Saya hanya berpikir bahwa semua murid dan mahasiswa akan melakukan hal yang sama dalam keadaan pandemi seperti ini.

Ternyata masih ada beberapa orang yang menghargai pentingnya kejujuran dalam pendidikan. Mereka memprioritaskan proses penyerapan ilmu yang sesungguhnya memang merupakan makna dari pendidikan itu sendiri. Masih ada pembelajar yang mungkin lebih “kecil”, baik secara usia seperti adik saya, maupun kecil dalam segi sosial ekonomi yang masih belajar dengan sungguh-sungguh di masa wabah. Saya merasa bahwa sangat mungkin di masyarakat ada banyak pula orang-orang yang belum berkesempatan mendapatkan pendidikan yang layak seperti saya. Mereka hanya mendapatkan pendidikan dasar, namun secara sungguh-sungguh mengembangkan ilmunya dengan optimal.

Ternyata anggapan saya bahwa semua siswa tidak lagi peduli dengan pendidikan di masa pandemi saat ini adalah salah. Masih ada orang-orang di luar sana yang menghargai pendidikan dalam konteks kejujuran dan kesungguhan. Secara lebih dalam, mereka bukanlah orang-orang dewasa atau orang-orang besar. Mereka adalah anak-anak dan orang-orang kecil di masyarakat yang berpegang teguh pada pendidikan untuk membangun bangsa.

Tanpa sadar, saya menyelami keragaman dalam pendidikan secara lebih dalam. Adik saya sudah menyelesaikan ujian akhirnya. Sekolah memberikan waktu libur untuk para siswa yang nilainya cukup memuaskan. Beberapa siswa lain yang nilainya kurang memuaskan diwajibkan mengikuti remidi.

Semasa sekolah, saya memang bukan tipe murid yang biasa mengikuti remidi, jadi saya bertanya kepada Albert mengenai sistem remidi pada pembelajaran daring. Ia menjelaskan sistemnya, lalu saya dengan spontan menanggapi, “Coba mereka belajar, pasti tidak harus menyusahkan diri seperti itu,” saat mengetahui sistem remidi yang lumayan rumit.

Albert berkata kepada saya bahwa tidak semua temannya yang remidi adalah mereka yang tidak mau belajar. Ada beberapa orang yang mengalami musibah di tengah ujian, namun tentu saja pihak sekolah tetap memperlakukan siswa tersebut sama dengan seluruh siswa yang lain, yang mengikuti ujian tanpa masalah.

Di sini saya menyadari bahwa manusia haruslah menjadi pribadi yang kuat di berbagai bidang, terutama di ranah pendidikan. Kontrol diri adalah hal yang penting, termasuk di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan sebagai dasar memahami perbedaan dalam masyarakat. Begitulah pemikiran saya seusai bercakap dengan Albert di saat selesai ujian.

Setelah Albert menyelesaikan ujiannya, giliran saya yang memasuki masa sibuk menjelang ujian akhir. Saya jarang berkomunikasi dengan Albert. Namun, setiap sore saya menyadari bahwa Albert jarang berada di rumah. Saya pikir, ia pergi melepas penat seusai ujian bersama teman-temannya di Malang, namun saat saya bertanya kepada ibu ke mana Albert pergi, ternyata jawabannya selalu sama, mengunjungi rumah nenek.

Jarak rumah nenek saya memang tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan sepeda motor, namun jujur, saya sendiri terakhir kali mengunjungi nenek sekitar setengah tahun yang lalu. Waktu luang di tengah kesibukan biasa saya manfaatkan untuk diri sendiri. Hal ini tentu saja berbeda dengan adik saya yang mengunjunginya setiap kali memiliki waktu luang.

Saya berefleksi saat mengamati keadaan ini. Saya belum memiliki kepedulian yang tinggi kepada orang-orang di sekitar saya. Saya cenderung memilih untuk menutup diri dan tidak mau tahu akan lingkungan sekitar. Hal ini bisa berdampak buruk kepada masyarakat secara luas bila banyak orang serupa dengan saya. Saya pernah membaca sebuah artikel bahwa tingkat individualitas masyarakat yang semakin tinggi dapat menimbulkan kerusakan bagi beragam segi kehidupan bangsa, mulai dari sumber daya alam, ekonomi, sosial budaya, hingga tatanan masyarakat.

Saya tidak menyangka bahwa saya termasuk salah satu orang yang berpotensi merusak bangsa. Saya berpendidikan, namun kepedulian masih kurang. Saya berniat pada diri saya sendiri untuk belajar lebih peduli, mulai dari hal-hal kecil yang ada di sekitar saya, misalnya: menyusun jadwal pribadi dengan teratur, mengunjungi nenek, dan membantu orang tua. Harapannya, hal kecil yang saya lakukan dapat berkembang menjadi suatu sikap kepedulian yang besar, sehingga di masa depan saya dapat ikut menjadi salah satu penyebar karakter positif untuk membangun bangsa Indonesia.

Saat tersadar, saya sudah sampai pada titik akhir perenungan saya. Keseragaman, ternyata bukan itu yang saya dan adik saya miliki. Semirip apapun latar belakang, serupa apapun acuan teladan, sejalan apapun pendidikan yang kami tempuh, pada akhirnya kata ”keseragaman” itu sendiri yang mengganjal dalam hati saya.

Kami tidak seragam. Kami beragam. Semuanya tampak berbeda ketika saya berusaha mmemahami dan menelisik lebih dalam. Dari berbagai hal yang telah saya refleksikan, berangkat dari keseragaman, ada satu hal yang dapat menjadi penutup indah.

Keseragaman timbul karena keberagaman yang ditoleransi. Keberagaman yang saya dan adik miliki tidak sebegitunya terlihat karena kami memaklumi hal tersebut. Tentang memaklumi perbedaan, hal ini juga dapat diterapkan dalam sektor selain pendidikan. Keberagaman adalah sesuatu yang indah. Sangat indah, dan kita pasti mampu menjadikan negara Indonesia kita tercinta menjadi wilayah yang damai dan tentram, menjadi suatu tempat yang seragam dalam keberagaman.