Di Indonesia keberagaman telah ada sejak jauh sebelum negara ini merdeka. Di antaranya keberagaman suku, agama, dan budaya. Perbedaan agama terkadang menjadi topik yang cukup sensitif dan berakibat menimbulkan perselisihan. Hingga sampai saat ini, perselisihan sering sekali muncul hanya disebabkan masalah kecil. Karena itu, saya mewawancarai beberapa orang yang memiliki perbedaan agama di lingkungannya yang dapat dikatakan sebagai minoritas di lingkungannya.
Informan pertama saya bernama I Gede Yogi Pramana. Ia seorang keturunan Bali. Bapak ibunya pindah dan menetap di Lombok, mereka beragama Hindu. Yogi mengatakan bahwa perbedaan yang paling ia rasakan adalah perbedaan agama karena ia memeluk Hindu sedangkan orang-orang di lingkungannya mayoritas beragama Islam. Selain agama, menurutnya perbedaan yang ia alami yakni perbedaan hobi dan kesukaan, yang acapkali dipandang tidak sesuai dengan gender yang ia miliki. Pengaruh perbedaan ini menurutnya cukup besar bagi dirinya.
Saat masih kecil ia sering mengalami perundungan dan dikucilkan, tetapi sekarang telah berkurang meski masih tetap ia rasakan. Menurutnya, perundungan ini berkurang karena dari waktu ke waktu mereka sudah mengerti akan yang namanya perbedaan. Yang tetap mem-bully kemungkinan besar masih memegang pandangan bahwa mayoritas memiliki kekuatan yang lebih besar pengaruhnya dibandingkan minoritas. Ini tergantung dari latar belakang seorang individu, apakah pernah mendapat pendidikan mengenai perbedaan dan keberagaman baik di keluarga, lingkungan tempat tinggal, maupun di sekolah.
Ketika masih kecil, Yogi kurang nyaman dengan warga di sekitar lingkungannya yang mayoritas muslim. Tetapi, seiring berjalannya waktu, sekarang ia dapat membaur bersama di lingkungannya tersebut. Saya bertanya mengapa ia kurang nyaman saat itu. Beragam alasan, ucapnya. Pertama, Yogi di sini merasa menjadi minoritas jadi terkadang kebingungan sehingga kesusahan membaur; kedua, pengalaman perundungan yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya dulu membuatnya trauma.
Menurutnya, perundungan ini didasari oleh perbedaan kepercayaan atau agama. Seperti contohnya di Islam, daging babi diharamkan dan di Hindu diperbolehkan. Dari perbedaan keyakinan seperti itu, mereka merundung dengan mengatakan bahwa makanan yang Yogi makan tidak suci dan kotor. Pengalaman masa kecil seperti itu membuat Yogi memiliki sedikit teman.
Di Lombok, setiap sudut desa maupun kota selalu terdapat musala atau pun masjid, karena mayoritas warga Lombok muslim. Suara azan atau surat-surat Al Quran dilantunkan rutin, terasa saling bersahutan. Terkadang, lantunan ayat-ayat suci terdengar dari subuh hingga tengah malam ketika hari-hari tertentu seperti malam Jumat. Saya penasaran mengenai bagaimana perasaan minoritas atau orang-orang yang beragama selain Islam tentang hal tersebut. Apakah mengganggu atau tidak.
Kebetulan rumah Yogi berada sangat dekat dengan musala. Hanya berjarak 15 meter saja dari rumahnya. Musala ini juga menggunakan pengeras suara atau toa yang cukup besar. Yogi menjawab bahwa selama ini ia tidak merasa terganggu. Seiring berjalannya waktu, ia terbiasa dengan suara azan bahkan baginya, telah menjadi penanda waktu. Uniknya, ketika ia berada di Bali, karena jarang mendengar suara azan, ia sempat merasa rindu dengan ciri khas umat muslim tersebut. Azan telah menjadi bagian dari lingkungan tempat tinggalnya di Lombok dan sebagai minoritas ia sangat menghormati perbedaan ini.
Saya cukup dekat dengan Yogi semenjak SD. Oleh karena itu, saya menggali lagi cerita tentang pengalamannya di lingkungan sekolah dalam menghadapi perbedaan. Ketika SD, perbedaan agama sangat terasa kuat, dan berlanjut menjadi perbedaan waktu yang berkaitan dengan rutinitas keagamaan. Ia sering merasa kesulitan ketika hendak bermain dan belajar bersama teman-temannya karena waktu ibadah yang berbeda.
Selama belajar di tingkat SD, Yogi merasa bahwa semua orang menganggapnya berbeda dan itu membuatnya tidak mempunyai banyak teman. Ketika naik tingkat ke SMP, ternyata toleransi terhadap perbedaan agama ini masih kurang dan sama seperti kala SD. Ia sering menangis karena teman-teman sekolahnya meledeknya, seperti ucapan jijik makan babi dan lain sebagainya.
Selain perbedaan agama, Yogi juga dikucilkan karena kurangnya pemahaman tentang gender masyarakat saat itu. Ia kadang dikatakan keluar dari gender laki-laki atau dianggap seperti layaknya perempuan. Saat SD dan SMP ia mencoba melawan dan melakukan pertahanan diri terhadap perlakuan teman-temannya. Ia tidak pernah melakukan kekerasan terhadap teman yang mengejeknya. Pada akhirnya Yogi tidak melawan dan hanya terdiam. Ini dikarenakan lagi-lagi ia merasa sebagai minoritas, sendirian, dan jika melawan, ia akan melawan banyak orang. Ternyata masa SMP yang ia jalani sangat kelam.
Keadaan berubah semenjak Yogi SMA. Ia merasa dirangkul, diterima baik perbedaan agama maupun kecenderungan gendernya yang tidak biasa. Perlakuan buruk oleh sesama teman berkurang jauh bahkan hampir tidak ada. Yogi merasa nyaman semenjak berada di SMA. Ia tidak pernah mengalami perundungan, ini saya ingat karena saya juga sekelas dengannya ketika SMA. Ia mempunyai teman yang sama banyak. Bukan karena ia memilih tunduk atau takut, tetapi karena diterima baik oleh teman-temannya meskipun memiliki perbedaan.
Saya coba bertanya lagi tentang sikap teman-temannya di universitas meskipun sejauh ini kami masih berkuliah secara virtual. Yogi menjelaskan bahwa lingkungan mahasiswa penuh dengan perbedaan. Ia tidak lagi merasa sendirian. Semua saling menghargai karena antar perbedaan bisa dibilang komposisinya seimbang, sehingga dia nyaman menjadi mahasiswa.
Informan kedua saya bernama Ni Made Ganesya Nandini. Ia juga minoritas di Lombok, karena beragama Hindu. Dia masih belajar di bangku SMP. Saya bertanya tentang apa saja yang sering ia dapat karena perbedaan agama. Dini mengatakan bahwa ia sering mendapat pertanyaan-pertanyaan berkaitan tentang tata cara beribadah dalam ajaran Hindu. Bagi Dini, pertanyaan semacam itu biasa, karena memang banyak temannya yang tidak tahu bagaimana ia melakukannya.
Dini merasa bahwa dia tidak pernah mendapat perlakuan yang tidak baik, seperti perundungan. Ini mungkin terjadi karena dia bersekolah di tempat yang baik dan mengajarkan perbedaan dengan sangat baik. Menurutnya, keberagaman di lingkungannya tidak lantas menjadi masalah kecuali mengakibatkan minoritas mendapat perlakuan buruk dari lingkungannya. Perbedaan agama membuat Dini lebih memahami ragam kepercayaan dan agama selain agamanya sendiri. Dan perbedaan justru membuatnya semakin berilmu dan merasa dapat lebih menghargai orang lain.
Pandangan saya tentang keberagaman, perbedaan adalah hal yang sangat biasa terjadi dalam kehidupan ini. Semenjak diciptakan, manusia telah banyak memiliki perbedaan, mulai dari wajah yang berbeda sehingga mereka sangat beragam. Menurut saya, perbedaan bukan berarti kita boleh melakukan hal-hal yang tidak baik pada orang yang berbeda.
Menghargai perbedaan ternyata tidak selalu sejalan dengan umur seseorang, seperti berdasarkan pengalaman informan pertama saya yang lebih merasa dikucilkan ketika SMP daripada ketika masih berada di SD. Mungkin perbedaan menjadi lebih diterima pada tahun-tahun belakangan ini karena media sosial menawarkan banyak sudut pandang yang berbeda tentang diri seseorang.
Informan pertama saya, meski berada di posisi sebagai minoritas dan dikucilkan, dia tetap menghargai dan dan menghormati orang-orang yang berbeda dengan dirinya, seperti yang ia katakan sebelumnya bahwa dia tetap tidak terganggu meskipun ada musala di dekat rumahnya yang sering menggunakan speaker pada waktu-waktu tertentu. Saya sebagai mayoritas merasa malu dan kasihan dengannya, karena kita tidak bisa membayangkan bagaimana kita berada dalam posisi minoritas yang selalu diganggu dan dikucilkan.
Informan kedua saya seorang perempuan. Barangkali, perempuan minoritas lebih dapat dihargai dan dihormati. Informan kedua saya ini merasa mendapat dukungan yang baik mungkin dikarenakan pendidikan saat ini lebih baik. Sistem pendidikan saat ini lebih baik daripada sistem pendidikan saat informan saya berada di bangku sekolah. Belakangan, perbedaan dianggap hal yang biasa saja dan menjadi warna yang bagus dalam kehidupan sosial masyarakat.
Setelah saya mewawancarai dua orang yang memiliki perbedaan agama dan gender, saya sebagai mayoritas mengakui bahwa banyak hal buruk yang terkadang dilakukan kalangan mayoritas kepada minoritas seperti mengejek, menjauhi, dan memusuhi. Hal itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak memahami makna keberagaman atau perbedaan di dalam lingkungannya. Seharusnya semakin dewasa seseorang, maka ia akan lebih mengerti tentang keberagaman itu. Di bangku sekolah juga seharusnya diberikan pemahaman tentang perbedaan tersebut. Saya sebagai mayoritas terkadang melihat bahwa adanya perundungan terhadap teman-teman minoritas tidak dianggap serius oleh masyarakat di lingkungannya. Informan pertama saya baru merasa dihargai dan dirangkul ketika SMA, mungkin karena anak-anak telah tumbuh dewasa dan mulai dapat menyikapi dengan baik perbedaan di sekelilingnya. Namun, terkadang ada saja orang dewasa yang masih bersikap kekanak-kanakan menganggap perbedaan itu mengganggu dan tidak bisa menerimanya.
Saya menyimpulkan bahwa perlakuan yang tidak baik terjadi bukan karena subjek berbeda tetapi lingkungan yang terkadang tidak menerima perbedaan tersebut. Seperti contoh, informan pertama saya mendapat perlakuan yang tidak baik sedangkan informan kedua saya diperlakukan dengan baik. Ini bukti bahwa perlakuan yang tidak baik itu berasal dari lingkungan yang tidak baik juga. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh informan pertama saya, bahwa keberagaman itu adalah hal yang ada di mana saja dan kapan saja. Di mana pun engkau berada pasti terdapat perbedaan atau keberagaman di sana. Seharusnya kita selalu menghormati hal tersebut.
Saya mendapat pelajaran yang sangat banyak dari wawancara yang telah saya lakukan dengan dua informan di atas. Kita sebagai mayoritas seharusnya memperlakukan orang-orang minoritas dengan sebaik mungkin seperti apa yang telah mereka lakukan juga. Oleh karena itu, menghargai perbedaan dan keberagaman itu menciptakan lingkungan yang nyaman dan tentram. Terakhir, keberagaman itu bukan untuk dihapuskan tetapi untuk dicintai dan diresapi.

