Saya Muhamad Radhitya Rahmat, salah satu mahasiswa yang ikut dalam Program Sekolah Keragaman. Sekolah yang mengajarkan saya tentang apa itu perbedaan dalam bermasyarakat. Di kehidupan ini, kita banyak menemui kelompok yang berbeda dengan kita, mulai dari suku, agama, ras, hingga kebudayaan. Para peserta Sekolah Keragaman diberi tugas untuk mengamati perbedaan yang ada di sekitar. Lalu menuliskannya ke dalam tulisan yang menarik untuk dibaca. Kami ditugaskan untuk menggali tentang apa yang membuat perbedaan itu terjadi. Esai ini saya tulis agar saya lebih memahami perbedaan yang terjadi di sekitar saya.

Narasumber pertama saya adalah seorang penjaga warung kopi yang ada di Villa Nusa Indah 2 Blok V, Gn. Putri, Kabupaten Bogor. Warung kopi tersebut buka 24 jam. Saya menjadikannya sebagai narasumber karena saya tertarik untuk mencari tahu bagaimana pola hidup orang yang harus mulai bekerja di saat malam hari, waktu di mana kebanyakan orang beristirahat.

Hal ini menarik, karena menurut saya pola hidup seseorang akan mempengaruhi kesehatannya dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Menjumpai seseorang yang harus bekerja dari malam hingga pagi hari, mendorong beberapa pertanyaan muncul di kepala saya. Apakah dia nyaman bekerja pada malam hari? Adakah pengaruhnya terhadap kesehatan? Seperti apa pelanggan yang datang saat malam hari? Apakah sama dengan pelanggan yang datang di jam normal atau berbeda? Apakah ada keinginan untuk pindah ke pekerjaan dengan jadwal “normal”?

Saya mendatangi Warkop Diamond 99 yang tidak jauh dari rumah saya. Narasumber saya bernama Suryadi, asal Kuningan Jawa Barat, berumur 30 tahun, dan sudah bekerja sebagai penjaga warung kopi sejak 2017. Dia merantau dari Kota Kuningan ke Kota Bekasi, karena ingin mengadu nasib di kota yang lebih besar, dengan harapan mendapat pendapatan yang lebih besar.

Suryadi bercerita awal mula ia menjadi penjaga warung kopi, karena diajak oleh temannya yang sama-sama berasal dari Kota Kuningan. Dia lalu mencoba untuk melamar pekerjaan itu, karena Warkop Diamond 99 memiliki banyak cabang di Jabodetabek. Awalnya Suryadi ditempatkan di cabang Depok. Karena aturan dari bos, penjaga warkop akan dipindah secara periodik—istilahnya di-rolling—setiap dua bulan sekali. Saat di Depok, ia tidak berjaga di malam hari, tetapi sejak dipindah ke Bekasi, Suryadi berjaga pada malam hari.

Saat ditanya, “Apa Kang Surya nyaman bekerja di malam hari?” Ia menjawab, “Ada enaknya, ada enggaknya juga”. Menjaga warkop di malam hari tidak terlalu sibuk, karena jumlah pelanggan cenderung lebih sedikit. Hanya ada anak-anak muda yang nongkrong di warung kopi. Berbeda jika di siang hari, saat pelanggannya lebih banyak, mulai dari kuli bangunan, ojek online, sopir, dan lain lain. Sisi tidak enaknya menurut Kang Surya adalah karena warkop sering sepi, dia sering merasa bosan.

“Adakah pengaruhnya terhadap kesehatan?”

Suryadi mengaku kadang sering pegal dan pusing saat bangun tidur. Jam tidurnya dimulai pada pagi hari pukul delapan hingga pukul dua siang. Pekerjaan yang membuat Kang Surya harus merelakan jam tidurnya ternyata berdampak terhadap kesehatannya.

Suryadi bercerita bahwa pelanggan warkop yang datang di malam hari biasanya anak muda, satpam, karyawan yang baru pulang bekerja, asisten rumah tangga, dan lain-lain. Pernah suatu hari ia didatangi pelanggan dari alam lain juga. Saya kurang yakin apakah Kang Surya bercanda atau serius saat menceritakan pengalaman mistisnya.

Sebenarnya, Suryadi ingin menjadi buruh pabrik, tapi karena latar belakangnya ia tidak memiliki pendidikan yang cukup, maka ia susah untuk melamar sebagai buruh pabrik. Kalau boleh memilih, dia ingin bekerja di jam normal atau siang hari. Tetapi ia tetap mensyukuri pekerjaannya. Berkat menjadi seorang penjaga warung kopi, ia bisa mengenal banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Ia bisa mendapat lebih banyak jaringan dari pelanggan yang beragam datang ke warung kopinya. Selain itu, ia juga bisa mengenal lebih banyak daerah karena peraturan bos yang mengharuskan pekerjanya untuk berpindah ke cabang warkop yang lain setiap enam bulan sekali.

Narasumber kedua yang saya wawancarai untuk bahan penelitian kali ini adalah pedagang nasi goreng yang ada di Bundaran Villa Nusa Indah 2. Saya mendatangi pedagang itu jam 23.30. Namanya Mas Aan, usia 24 tahun. Ia sudah menjadi pedagang nasi goreng sejak awal tahun 2021. Asalnya dari Bekasi, tinggal juga di Bekasi. Sebelum menjadi pedagang, Mas Aan adalah seorang pelayan di sebuah restoran. Tetapi karena pandemi, restoran tempat ia bekerja mengalami kerugian hingga terpaksa ditutup. Lalu, Mas Aan beralih profesi sebagai tukang nasi goreng bermodal keterampilan memasak yang ia dapatkan dari restoran tempat ia bekerja dulu.

Mas Aan adalah salah satu narasumber yang tepat, karena ia pernah bekerja di jam normal, dan sekarang bekerja di jam malam. Saya bisa menggali seberapa besar perbedaan bekerja di jam siang dan jam malam dari Mas Aan. Alasan berdagang di malam hari, menurut pertimbangan Mas Aan, karena ia menyasar pasar orang yang baru pulang bekerja maupun baru selesai beraktivitas. Apalagi di malam hari, jarang ada pedagang nasi goreng di daerah Villa Nusa Indah. Sehingga dagangan Mas Aan bisa menjadi pilihan utama penghuni pemukiman ini jika ingin membeli makanan di tengah malam.

Awalnya, Mas Aan merasa kesulitan menahan kantuk ketika berdagang di malam hari. Tetapi lama-kelamaan mulai terbiasa seiring berjalannya waktu. Hal yang paling berbeda dibanding bekerja di restoran adalah dia harus melayani pelanggannya seorang sendiri. Jadi, saat pembeli sedang ramai, Mas Aan sering kewalahan melayani pelanggan. Di awal berdagang nasi goreng, Mas Aan bersama seorang temannya. Tetapi temannya tersebut diterima bekerja di tempat lain, sehingga sekarang Mas Aan berdagang seorang diri.

Ketika dihubungkan dengan masalah kesehatan, Mas Aan menjawab terkadang jika berdagang hingga larut malam sekali, ia sering masuk angin. Kadang jika terlalu parah, ia sampai tidak bisa berdagang. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia sudah tidak mengalami hal itu karena sudah mulai beradaptasi dan mencegahnya dengan minum obat anti masuk angin. Sama seperti Kang Surya, ternyata jam kerja Mas Aan mempengaruhi kesehatannya.

Mas Aan mengatakan bahwa yang datang membeli dagangannya kebanyakan anak muda, satpam, sopir taksi, dan tukang ojek. Ada juga orang yang memang bekerja di malam hari dan mencari makanan. Karena jarang orang yang menjual makanan hangat di malam hari, maka dagangan Mas Aan terbilang cukup ramai.

Sebenarnya, Mas Aan ingin mengubah jam kerjanya. Tetapi penghasilannya sebagai pedagang nasi goreng terbilang sedikit lebih besar dibandingkan ia menjadi pelayan di restoran. Jadi kalau bisa, ia ingin mencari pekerjaan lain, tetapi tidak menutup usahanya sebagai pedagang nasi goreng. “Kalau bisa sih, saya cari orang buat jaga gerobak,” katanya.

Dari kedua narasumber yang saya wawancarai, jam kerja malam membawa pengaruh pada kesehatan mereka. Baik Kang Surya maupun Mas Aan, sebenarnya sama-sama ingin mempunyai pekerjaan dengan jam kerja normal di pagi hingga sore hari. Tetapi bekerja di jam malam tidak selalu buruk. Menurut saya, baik atau tidaknya suatu pekerjaan, tergantung dengan perspektif kita dalam memandang suatu pekerjaan. Jika kita memandang dengan kacamata positif, maka akan ada banyak hal positif yang bisa kita ambil.

Menurut penelitian, ada hal berbahaya yang bisa terjadi jika terus-menerus bekerja di jam malam. Bekerja di malam hari membuat kadar hormon leptin menurun. Hormon tersebut berfungsi untuk mengontrol berat badan, gula darah, dan kadar insulin. Perubahan hormon tersebut bisa berdampak buruk bagi metabolisme tubuh, sehingga berbagai macam penyakit seperti flu lebih mudah menyerang. Selain itu, bekerja di jam malam juga dapat meningkatkan risiko terbentuknya sel kanker.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari kedua narasumber di atas adalah jam kerja ternyata berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan dan pola hidup pekerja. Meski kedua narasumber menginginkan jam kerja normal, tetapi keadaan sosial ekonomi masing-masing yang mengharuskan mereka untuk bekerja di jam malam.

Kehidupan mereka jauh berbeda dengan saya yang beraktivitas di pagi hingga malam hari. Jika saya harus terjaga dari pagi hingga malam hari, mereka harus terjaga dari malam hingga pagi hari. Perbedaan ini membuka mata saya bahwa ada orang-orang di luar sana yang mungkin juga merasakan dampak yang sama dengan bekerja di malam hari. Pasti ada banyak orang yang juga kurang nyaman bekerja di malam hari. Mungkin juga, ada dampak yang lebih buruk yang dialami pekerja lain ketika harus terus terjaga di malam hari.