Seminar Pembuka merupakan kegiatan pertama dari rangkaian program Sekolah Keragaman. Acara ini diselenggarakan sebagai medium sosialisasi dan pembekalan kepada para mahasiswa yang nantinya akan berpartisipasi aktif di dalam seluruh tahapan Sekolah Keragaman. Tema besar Seminar Pembuka kali ini “Membangun Inklusivitas sebagai Jalan Menghidupi Semangat Keragaman di Indonesia”.
Menurut ketua Kelompok Kajian Warga Karta, Dr. Hipolitus K. Kewuel, program Sekolah Keragaman ini adalah program yang dirancang sebagai bagian dari tanggung jawab moral studi pluralisme dan multikulturalisme untuk menanamkan sikap inklusivitas kepada mahasiswa dan masyarakat umum. “Program ini tidak dilakukan sebagai reaksi atas situasi insidental tertentu, tetapi semata-mata karena ekspresi keilmuan untuk mengolah realitas keragaman yang akan selalu menjadi isu menarik untuk dikaji. Program ini dirancang untuk durasi waktu pelaksanaan selama satu tahun mulai Juli 2021 hingga Juli 2022,” jelasnya. Oleh karena itu, Seminar Pembuka menjadi tahapan yang sangat penting dalam menyiapkan peserta program memasuki proses pembelajaran multikultur, baik secara teori (terintegrasi dalam matakuliah Pancasila) maupun secara praktik (kegiatan live-in).
Seminar Pembuka dirancang untuk memberi wawasan multikultur terkait sejumlah topik agar peserta Sekolah Keragaman fokus dalam mengeksplorasi pengalaman keragamannya masing-masing. Topik-topik yang ditawarkan antara lain: agama, sosial ekonomi dan politik, gender, etnisitas (genetika), dan pendidikan. Dengan pilihan tersebut, peserta program diberi kebebasan untuk menemukan dan mengeksplorasi wacana keragaman.

Sasaran utama dalam seminar ini adalah 100 mahasiswa peserta matakuliah Pancasila. Selain itu, 50 peserta perwakilan dosen dari setiap fakultas di Universitas Brawijaya turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Terdapat pula 34 peserta stakeholders yang merupakan perwakilan dari masyarakat baik secara individu maupun komunitas. Idealnya, mereka adalah pihak yang berinteraksi dengan para mahasiswa peserta program saat kegiatan live in. Peserta seminar juga berasal dari kalangan praktisi baik individu maupun komunitas yang memiliki latar belakang kerja-kerja merawat multikulturalisme, seperti resolusi konflik dan kampanye anti radikalisme, sehingga dapat turut serta berbagi pengalamannya di sesi diskusi dalam Seminar Pembuka.
Demi membekali peserta dengan wawasan mengenai topik-topik yang sudah ditentukan di atas, beberapa narasumber ahli akan memaparkan beragam materi di Seminar Pembuka. Seminar diisi dengan dua sesi. Masing-Masing sesi terdiri dari dua pemateri. Materi pertama diisi oleh Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria MA., Ph.D. Beliau membahas keragaman dalam perspektif etnisitas dan genetika. Dengan latar belakang sebagai pakar antropologi ragawi dari FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Myrtati menjelaskan berbagai contoh etnis dan ras di dunia.
Materi kedua tentang multikulturalisme dalam perspektif agama dan budaya yang disampaikan oleh Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto dari Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung. Beliau menjelaskan bahwa multikulturalisme yakni pandangan yang menolak sentralitas global dari budaya apapun atau perspektif sejarah apapun. Budaya tidak lagi bermakna tunggal. Budaya akan selalu tumpang-tindih, saling pinjam-meminjam, dan silang-menyilang. Beliau menyatakan dalam era kontemporer ini, agama dan tradisi sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pemikiran pribadi.
Materi mengenai multikulturalisme dari sisi sosial, ekonomi, politik, dan gender dipaparkan oleh Prof. Dr. Siti Zuhro, Peneliti Senior bidang Sosial Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Beliau menyebut bahwa disharmoni dan masalah kohesi sosial terbentuk karena empat elemen Hak Asasi Manusia (HAM) terabaikan, di antaranya: 1) kesetaraan tanpa adanya diskriminasi;
2) harkat martabat dijunjung tinggi;
3) komitmen untuk berpartisipasi;
4) kebebasan individu terkait pengembangan diri.
Keempat elemen ini saling terkait dan saling tergantung, sehingga jika semuanya dapat dipraktikkan di kehidupan sehari-hari maka harmoni sosial akan terwujud.
Multikulturalisme dalam perspektif Pancasila dan pendidikan sebagai materi terakhir dalam Seminar Pembuka, disampaikan oleh Prof. Yudi Latif, Ph.D, mantan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Beliau menawarkan sejumlah karakter yang perlu diaplikasikan pelajar (pembelajar) Pancasila, yakni sebagai berikut: 1) berketuhanan dengan semangat akhlak mulia; 2) cinta tanah air dengan semangat kosmpolitan (persaudaraan semesta); 3) mandiri dengan semangat gotong royong; 4) bernalar kritis dengan semangat deliberatif; 4) berkompeten dengan semangat pelayanan dan keadilan. Menurut Prof. Yudi, kebhinekaan dapat dengan mudah dipahami oleh siapa pun, namun sikap terhadap keragaman-lah yang jarang dimiliki oleh masyarakat. Seyogianya, sikap terhadap keragaman berlandaskan filsafat Pancasila yang merefleksikan kenyataan lokalitas dan nilai-nilai baik dari luar budaya setempat.