Hari ini, saya melakukan wawancara dengan beberapa tokoh adat di Kampung Latung, Desa Latung, Manggarai. Topik wawancara dipusatkan pada pembahasan berkaitan dengan salah satu acara adat di Kampung Latung, yang bernama Penti.

Wawancara dengan Tetua Adat di Kampung Latung

Wawancara dengan Tetua Adat di Kampung Latung

Berdasarkan hasil wawancara, maka diperoleh beberapa poin penting, berkaitan dengan konsep multikulturalisme dalam Upacara Penti. Pertama, Upacara Penti merupakan sebuah upacara adat yang bertujuan untuk mengucap syukur kepada Mori Kraeng (Tuhan) atas hasil panen yang diperoleh dalam satu tahun. Selain itu, Upacara Penti juga pada dasarnya menjadi sebuah ritual doa bersama untuk meminta bantuan Tuhan agar memperoleh hasil panen yang cukup di tahun yang akan datang. Inti dari upacara adat Penti ini diungkapkan dalam kalimat berikut: ”Ho’o manuk, teing hang di’a meu ema lopo. Ai kut na’as ntaung manga, werus ntaung weru nio diang. Diang gerak tana, tipa cu’a lele roka, na’a wa ni’i.” Kalimat ini sesungguhnya merupakan sebuah ungkapan doa dan syukur kepada Tuhan untuk berkat yang telah Ia berikan kepada masyarakat yang tinggal dalam satu kampung.

Kedua, nilai multikulturalisme dalam acara ini terlihat dari keterlibatan seluruh masyarakat dalam satu kampung. Di sekitar Mbaru Gendang (rumah adat) Latung II, ada beberapa suku yang mendiami kampung tersebut, seperti suku ”Latung Tado”, ”Nacang” dan beberapa suku lain. Pada saat acara Penti ini, semua suku yang berada di Kampung Latung II bekerja sama di dalam Mbaru Gendang. Bahkan, masyarakat yang dianggap sebagai suku ”singgahan” pun tetap diperkenankan untuk mengikuti ritual tersebut. Semuanya berkumpul bersama dalam satu acara dan di dalam satu rumah adat.

Nenek moyang yang disembah dari masing-masing suku pun tentunya berbeda-beda. Tetapi dalam acara Penti ini, semuanya disatukan dan disampaikan dalam satu ritual saja. Kalimat-kalimat itu menjadi pemersatu dan doa bersama yang diungkapkan kepada Tuhan. Upacara Penti menjadi sebuah ritual yang melewati batasan tertentu, terlebih khusus sekat-sekat seperti suku dan etnis. Dalam acara ini, masing-masing suku dalam satu kampung menghapus egonya masing-masing dan menyatu dalam kebersamaan dengan suku lain, dan bahkan menyampaikan doa dan persembahan kepada leluhur bersama-sama.

Prosesi Upacara Penti

Prosesi Upacara Penti

Prosesi Upacara Penti