Perkenalkan saya Fransiskus Xaverius William Watu Raka, biasa akrab disapa William. Saat ini sedang berkuliah Jurusan Akuntansi, Universitas Brawijaya Malang. Untuk tugas kali ini dalam kegiatan “Sekolah Keragaman” saya memilih untuk bercerita tentang kehidupan di dalam kelurga besar saya yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Maka dari itu, perbedaan adalah hal yang sudah biasa bagi diri saya sendiri.
Perbedaan agama dan suku di dalam keluarga besar saya ini terjadi karena adanya kawin-mawin dari opa dan oma baik dari keluarga ayah maupun ibu. Kalau dari orang tua ibu saya, opa beragama Katolik dan berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur, menikah dengan oma yang beragama muslim yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Begitupun kalau dari orang tua ayah saya, opa beragama Katolik dan berasal dari Rote, Nusa Tenggara Timur, menikah dengan oma yang berasal dari Pakem, Yogyakarta. Dan hal ini sama terjadi di pihak saudara dari opa/oma saya yang menikah dengan suami/istrinya juga yang berbeda suku dan agama. Keluarga inti sendiri, terdiri dari bapak, ibu, saya, dan saudara saya, semuanya beragama Katolik.
Dari kecil, saya telah diajari tentang toleransi kepada keluarga terutama kepada sepupu-sepupu saya. Bisa dibilang dari kecil saya tumbuh bersama saudara-saudara sepupu saya yang beragama muslim, karena pada saat masih kecil saya sering dititipkan di rumah saudara bapak saya yang beragama muslim. Meskipun agama kami berbeda satu sama lain, tetapi tidak ada suatu perasaan berbeda. Ketika sepupu saya salat, kadangkala saya pun juga ikut tetapi berdoa dengan agama saya sendiri. Ketika Hari Raya Idul Fitri saya pun merayakannya, begitu pula saat Hari Raya Natal, sepupu-sepupu saya pun merayakannya bersama saya. Hal-hal tersebut membuat diri saya dan sepupu-sepupu saya merasakan bahwa perbedaan adalah hal yang lumrah, dan bahkan ketika di media sosial atau pemerintah menyuarakan kegiatan untuk bertoleransi, kami pun sudah paham bagaimana cara menghormati satu sama lain.
Saya mempunyai pengalaman merayakan Natal yang hangat bersama keluarga besar. Saat itu tanggal 24 Desember 2019, sebelum pandemi covid-19 terjadi, setiap malam natal umat Katolik akan ke gereja untuk ibadah merayakan kelahiran Yesus Kristus, sedangkan besoknya akan ada tamu dari kerabat, teman, dan keluarga yang datang bersilahturahmi di rumah untuk mengucapkan selamat natal.
Sudah menjadi tradisi setiap Hari Natal, ibu saya akan menyiapkan beragam makanan untuk para tamu yang datang ke rumah. Karena semua orang di rumah pergi ibadah misa di malam tanggal 24, maka tante, om, dan saudara sepupu saya yang beragama muslim yang membantu untuk memasak masakan untuk persiapan Natal. Selain membantu ibu memasak, kami bersama-sama menghias rumah dengan ornamen-ornamen Natal, memasukkan kue-kue kering ke dalam toples, serta bermain kembang api.
Besoknya, 25 Desember pagi, saya, bersama ayah, ibu, dan kakak pergi ke gereja. Sementara itu, yang mengurus segala keperluan di rumah adalah om, tante, dan sepupu-sepupu saya. Ketika tamu mulai datang ke rumah, biasanya mereka kaget karena yang menyambut dan mempersilakan masuk ke rumah adalah tante yang mengenakan jilbab.
Perbedaan saya dan keluarga besar hadapi bukan menjadi suatu hal yang membuat kami saling menjauh. Perbedaan tidak pula menjadi benteng penghalang melainkan hal tersebut yang menjadikan kita semakin kuat dan kompak. Bahkan, ketika ada isu-isu tentang pembakaran gereja atau kasus yang menyinggung agama, tidak sekalipun salah satu dari kami merasa tersudut. Kami malah membahasnya dan menyayangkan orang-orang yang melakukan tindakan kriminal tersebut. Sering ketika teman/kenalan kami mengetahui hal ini, mereka malah bingung dan heran kenapa kami bisa begitu solid dan rukun, hal tersebut membuat saya dan keluarga bangga bisa tetap bersatu meskipun dalam lingkungan yang heterogen.
Pada live in minggu ketiga, saya sempat mewawancarai saudara sepupu saya bernama Rizqi Watu Raka. Rizqi ini merupakan saudara sepupu saya yang beragama Islam. Ayahnya Rizqi adalah sepupu ayah saya. Opanya Rizqi dengan opa saya merupakan saudara kandung, namun opa saya beragama Katolik, sedangkan opanya Rizqi beragama Islam karena menikah dan mengikuti agama istrinya.
“Menurutku pribadi, perbedaan itu biasa. Kita ke mall, ke sekolah, ke tempat umum pun selalu berjumpa dengan orang yang berbeda. Berbeda tak harus berkaitan dengan agama. Bisa jenis kelamin, daerah, kewarganegaraan, dan sifat seseorang. Dan aku merasa senang sekaligus bersyukur karena mempunyai keluarga besar yang beragam agamanya, aku jadi bisa belajar banyak hal. Perbedaan ini membuka pandangan atau mindset-ku secara pribadi dan satu hal lagi, banyak sekali pengalaman yang aku dapat, misalnya jadi tahu bahwa Natal itu bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan,” ucap Rizqi.
Bagaimana Rizqi menempatkan diri di dalam anggota keluarga besar yang memiliki berbagai macam agama? “Aku biasa saja, tidak harus yang gimana-gimana, mungkin karena dari kecil sudah makan, bangun, tidur dengan William, dan sepupu-sepupuku lain yang beragama beda denganku. Jujur, aku dekat sekali dengan orang tua William. Aku tidak panggil mereka Om dan Tante, tapi Bapak dan Mama, karena memang sudah sedekat itu dari kecil. Misalnya kalau orang tua William pulang dari luar kota selalu bawakan aku oleh-oleh (makanan/pakaian, dll). Dan aku pun dimanja sama seperti William, kadang diberi uang jajan juga. Menjelang Idul Fitri William selalu ke rumah, bahkan karena tahu mamaku ada masak-masak, William selalu menginap, entah itu membantu beres-beres di rumah, dan saat bulan puasa pun William kadang ikut berpuasa. Begitu juga ketika Natal, kan itu ada kegiatan menghias pohon natal, aku selalu antusias. Bahkan, kalau aku melihat rumahnya William belum dipasang pohon natal, aku yang menyuruh William untuk segera memasangnya karena ingin juga ikut bantuin.
Menurutku, tidak ada hal yang salah selama itu tidak membunuh, memfitnah, atau melakukan tindakan kriminal. Selama hal tersebut positif dan tidak merugikan pihak manapun, kenapa tidak? Sejak kecil sampai sekarang aku tiap makan dan tidur di rumah keluarga besar yang Non-Islam, tidak pernah sekalipun mereka suruh saya untuk berdoa secara Katolik atau disuruh makan daging babi atau hal lainnya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Malah aku yang selalu diingatkan buat salat dan Jumatan. Hal tersebut membuatku merasa kasihan jika masih banyak teman-teman di luar sana yang rasis. Entah apa keuntungan mereka berbuat penuh kebencian terhadap orang yang tidak sefrekuensi dengan mereka,” jelas Rizqi panjang lebar.
Dalam momen-momen apa saja perbedaan-perbedaan tersebut sering menyulitkan di kehidupan sehari-hari? “Ketika adanya berita tentang pembakaran gereja, penolakan pembangunan gereja, atau masalah-masalah sejenis tentang perkelahian antar agama, nah kadang seperti itu yang membuatku merasa tidak enak dan malu. Apalagi ketika berita tersebut tiba-tiba muncul di saat aku di rumah William, kadang aku langsung terdiam. Tetapi yang aku salut, mungkin karena bapak dan mama William orangnya open minded jadi tidak pernah mempermasalahkan atau menyinggung ketika ada hal seperti itu di berita. Sebenarnya hal tersebut bukan menjadi kesulitan atau hambatan tetapi dari saya sendiri saja yang tidak enak perasaannya jika ada kejadian seperti itu, meskipun orang tua William juga biasa saja menyikapinya.”
Bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut bisa dikelola sehingga tidak memunculkan masalah? “Ya, sejak kecil kami sekeluarga dari opa atau oma dan orang tua sudah mengajarkan tentang saling mengampuni dan menghargai. Dalam sehari-hari aku dan William pun tidak selamanya akur, kami malah sering berkelahi atau berbeda pendapat tetapi tidak lama. Kadang aku yang minta maaf duluan atau sebaliknya, malah hal tersebut yang membuat kita semakin akur dan memahami satu sama lain.”
Apa yang bisa direfleksikan dari keanekaragaman identitas di kelompok ini yang dapat menjadi contoh kehidupan penuh toleransi di masyarakat? “Yang dapat menjadi contoh yaitu tentang menghargai dan menghormati antar satu sama lain, entah itu berbeda agama, ras, dan budaya. Harus bisa saling memaafkan. Minta maaf duluan bukan berarti kita lemah atau takut tapi itu menunjukan bahwa pola pikir kita lebih maju atau lebih dewasa,” tutup Rizqi mengakhiri wawancara.

Dokumentasi Perayaan Natal 2019

