Praktik Baik Bersih Dusun di Desa Jambuwer

Desa Jambuwer memang terkenal dengan praktik baiknya dalam membangun kebersamaan dan toleransi antarwarga. Acara tahunan “bersih dusun” yang diselenggarakan oleh lima dusun (Krajan, Glagaharum, Bulupogog, Cakruk’an, Rekesan) di Desa Jambuwer menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dan guyub rukun sangat dikedepankan dalam masyarakat ini.
Dalam acara bersih desa, seluruh warga dari lima dusun bergiliran membersihkan lingkungan desa dan melakukan sedekah bumi. Tak hanya itu, mereka juga saling membantu dalam menyiapkan kebutuhan acara, mulai dari persiapan makanan, dekorasi, hingga kegiatan kesenian yang memeriahkan acara tersebut. Semua warga saling bahu-membahu dan bekerja sama tanpa memandang perbedaan status dan agama.
Toleransi dan inklusi juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam praktik baik masyarakat Desa Jambuwer. Warga dari berbagai agama hidup berdampingan secara harmonis, saling menghormati dan membantu satu sama lain. Mereka memahami bahwa keragaman bukanlah sebuah hambatan, tetapi sebuah kekayaan yang harus dijaga dan dihargai bersama.
Dalam mengkoordinir acara bersih dusun yang berlangsung selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Jambuwer telah menunjukkan bahwa praktik pengolahan keragaman yang baik dan berhasil guna dapat membentuk kekuatan solidaritas yang kuat. Kebersamaan dan guyub rukun yang terjalin antarwarga telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan penuh kebahagiaan. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tarian Tayub Langen Beksan Menyambut Bersih Dusun

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Kesenian dapat memainkan peran penting dalam memperkuat nilai kebersamaan masyarakat desa, seperti yang terlihat dalam ritual Langen Beksan di Desa Jambuwer yang dipentaskan dalam menyambut acara bersih dusun. Tarian ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi simbol dari persatuan dan kesatuan masyarakat desa.
Para penari dan seniman dari berbagai lapisan masyarakat desa berpartisipasi dalam ritual ini, menampilkan tarian Langen Beksan yang indah dan mengagumkan. Dalam pertunjukan ini, gendingan yang mengiringi tarian diyakini dapat mengusir datangnya bencana, sehingga seluruh masyarakat desa merasa aman dan tentram.
Selain itu, ritual Langen Beksan juga berfungsi sebagai sarana untuk memupuk rasa kebersamaan dan persatuan di antara masyarakat desa. Dengan berpartisipasi dalam pertunjukan tarian bersama-sama, para anggota masyarakat desa dapat membangun ikatan sosial yang kuat dan memperkuat hubungan interpersonal yang harmonis.
Terakhir, ritual Langen Beksan juga menjadi upaya untuk melestarikan budaya dan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat desa. Dengan terus mempraktikkan ritual ini secara berkala, masyarakat desa dapat memastikan bahwa budaya dan tradisi mereka tidak hilang, tetapi tetap terjaga dan diteruskan ke generasi mendatang.
Dalam kesimpulannya, kesenian dapat memainkan peran penting dalam memperteguh nilai kebersamaan masyarakat desa. Seperti halnya dalam ritual Langen Beksan, kesenian dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan interpersonal, memupuk persatuan dan kesatuan, serta melestarikan budaya dan tradisi yang merupakan identitas dari masyarakat desa.
Ritual Tradisi Mbok Bilih Tirto Wening

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Mbok Bilih Tirto Wening adalah sebuah ritual kebersihan di Desa Jambuwer yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas sumber air bersih yang mengalir di sungai. Tradisi ini dilaksanakan di pagi hari di sepanjang aliran sungai yang menjadi sumber air bersih tersebut. Selama acara ini berlangsung, masyarakat desa bekerja sama membersihkan area sekitar sungai dari sampah dan lumpur serta membersihkan saluran air yang ada di sekitar desa. Dalam pelaksanaannya, tradisi Tirto Wening mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan persatuan, yang tercermin dari partisipasi aktif masyarakat desa dalam menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air. Sebagai salah satu upaya untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkuat guyub rukun di antara warga desa, kegiatan ini diadakan secara rutin setiap tahunnya.
Jenang Hindangan Bersih Dusun

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Terdapat satu acara yang selalu dinanti-nanti oleh masyarakat perdusunan Desa Jambuwer, yaitu agenda memasak ‘jenang’ untuk menyambut tradisi bersih dusun. Meskipun hanya dilakukan sekali dalam setahun, acara ini memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat, karena selain untuk persiapan sehari sebelum acara bersih desa dan sedekah bumi, acara ini juga menjadi ajang kebersamaan dan guyub rukun yang membentuk kekuatan solidaritas yang tak tergoyahkan di antara mereka. Ketika semangkuk jenang hangat dihidangkan, masyarakat merasakan kehangatan dan kebersamaan yang tak tertandingi, dan dengan hati penuh syukur, mereka bersama-sama merayakan kebersamaan dan menjalin persahabatan yang abadi.
Kembul Ujup Mbah Seladah

Sumber Foto: Dokumentasi Pemerintah Desa Jambuwer.
Bancakan pada acara bersih dusun bukan hanya sebuah acara makan bersama, tetapi lebih dari itu, yaitu momen yang menunjukkan kekuatan guyub rukun dalam kehidupan masyarakat Desa Jambuwer. Selama bancakan, warga saling berbagi cerita, saling mengenal satu sama lain, dan saling menghargai keberadaan sesama anggota masyarakat desa.
Dalam suasana kebersamaan dan harmoni yang tercipta, masyarakat desa merasa lebih kuat dan berdaya untuk menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan yang mungkin muncul di kemudian hari. Dengan mengedepankan nilai-nilai gotong royong dan persatuan, mereka dapat menyelesaikan masalah dengan lebih mudah dan efektif.
Selain itu, bancakan juga menjadi sarana untuk memupuk rasa syukur kepada para leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam momen ini, warga Desa Jambuwer menghormati dan mengenang jasa-jasa para leluhur dalam membangun dan mempertahankan kehidupan di desa mereka. Dengan menunjukkan rasa syukur yang tulus, mereka berharap agar para leluhur senantiasa memberikan perlindungan dan keberkahan bagi kehidupan masyarakat desa.
Dalam kesimpulannya, bancakan dalam rangkaian kegiatan bersih dusun merupakan bukti nyata betapa pentingnya guyub rukun dalam kehidupan masyarakat desa. Melalui momen sakral ini, warga Desa Jambuwer dapat memperkuat hubungan sosial dan kekeluargaan, memupuk rasa syukur, dan menghormati para leluhur. Dengan menjaga nilai-nilai ini, masyarakat desa dapat terus hidup dalam kebersamaan dan harmoni, serta mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul di masa depan.
Pelatihan Aktivis Desa Praktik Baik Bersih Dusun di Desa Jambuwer
Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Jambuwer, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Pakar pemberdayaan memahamkan cara mengoptimalkan potensi praktik baik yang ada di desa dan membangun kerjasama yang harmonis antarwarga, sementara pakar media membahas cara mengkomunikasikan pesan-pesan penting praktik baik kepada masyarakat melalui media yang efektif. Fasilitator memandu peserta dalam menyusun strategi penyebarluasan praktik baik, baik itu secara door-to-door ataupun melalui acara komunal dengan bantuan media peraga yang dipilih. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Foto salah satu kelompok FGD pada Pelatihan Aktivis Desa Jambuwer. Sumber Foto: Wargakarta.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.




