Praktik Baik Pelestarian Sumber Daya Air di Desa Mangliawan

Di Desa Mangliawan, pelestarian sumber daya air menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kebersamaan dan guyub rukun masyarakat Desa Mangliawan turut mempengaruhi keberhasilan praktik pelestarian sumber daya air. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Warga dari berbagai agama dan latar belakang bekerja sama tanpa ada diskriminasi. Mereka memahami bahwa menjaga sumber daya air bukanlah tanggung jawab satu individu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.
Melalui praktik pengolahan keragaman yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Mangliawan telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga sumber daya air tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Mangliawan tetap menjadi teladan dalam pelestarian sumber daya air dan pengelolaan lingkungan yang baik.
Mijiling Tirto

Mijiling Tirto adalah sebuah tembang air yang mengiringi ritual Selamatan Kali di Desa Mangliawan yang diusung oleh Komunitas Budaya H3 (Hurip, Hurup, Handarbeni). Suara merdu para sinden bergema dalam setiap prosesi ritual, memberikan suasana yang semakin kental dengan keagungan alam. Dalam kegiatan ini, terdapat sebuah prosesi yang dilakukan oleh para gadis, di mana mereka mengambil air sebagai simbol kesucian.
Setiap tetes air yang diambil menjadi sebuah doa dan ungkapan rasa syukur atas ketersediaan sumber daya air yang telah melimpah. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan nilai kebersihan, tetapi juga mengajarkan untuk meraih kehidupan yang tata, titi, dan tentrem, yang artinya meraih kehidupan yang teratur, damai, dan sejahtera.
Mijiling Tirto menjadi sebuah simbol dari kesederhanaan dan keelokan alam Desa Mangliawan. Suatu keindahan yang abadi dan tidak tergoyahkan, yang terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selamatan Kali dan tembang air Mijiling Tirto selalu menjadi wujud rasa syukur atas keberlimpahan alam dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal Desa Mangliawan.
Ritual Tengger Tirto Suci untuk Keseimbangan Alam

Acara Tirto Suci merupakan sebuah tradisi yang diadakan di Desa Mangliawan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Tuhan berupa rezeki, keselamatan, serta melimpahnya air. Acara ini dimotori oleh Komunitas Budaya H3 (Hurip, Hurup, Handarbeni). Tradisi ini dilaksanakan pada hari Kamis Legi dan Selasa Kliwon dengan diikuti oleh seluruh warga dan komunitas air dan budaya di Desa Mangliawan.
Acara ini menghadirkan tiga tokoh dari perwakilan Muslim, Kejawen, dan Hindu, yang menunjukkan nilai kerukunan dan toleransi antarumat beragama yang kuat di Desa Mangliawan. Tidak ada perbedaan antara mereka dalam merayakan tradisi Tirto Suci, semua berpartisipasi dengan penuh semangat dan keikhlasan.
Tradisi Tirto Suci juga memiliki makna yang dalam, karena tidak hanya mengajarkan tentang rasa syukur dan kebersamaan, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga sumber daya air sebagai anugerah Tuhan yang diberikan kepada semua makhluk hidup. Dengan menjaga sumber daya air secara bersama-sama, masyarakat di Desa Mangliawan dapat memastikan keberlangsungan hidup yang baik dan lestari bagi generasi mendatang. Kerukunan dan toleransi dalam merayakan tradisi Tirto Suci di Desa Mangliawan merupakan contoh nyata dari keberhasilan masyarakat dalam membangun hubungan harmonis antarwarga yang memiliki latar belakang beragam.
Taman Wendit Lanang

Taman Wendit Lanang, mata air kuno yang mengalir dalam sejarah. Wilayah ulayat dan tanah adat rakyat Desa Mangliawan, menjadi pusat kehidupan dan sumber perekonomian warga setempat. Tidak hanya menjadi tempat sakral dalam pelaksanaan ritual adat yang digerakkan oleh LAD (Lembaga Adat Desa) Mangliawan, Wendit Lanang juga menjadi tempat di mana masyarakat mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kehadirannya yang abadi dan penting dalam membangun branding desa, menggabungkan unsur pariwisata, ekonomi, pemeliharaan budaya adat, serta memperkaya kesatuan dan kebersamaan antar masyarakat desa. Wendit Lanang, sebuah karunia yang harus terus dijaga dan diwariskan sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal Desa Mangliawan.
Pahargyan Tirtha Wiwaha

Pahargyan Tirtha Wiwaha adalah perayaan perkawinan air antara Sumber Wendit Lanang dan Wendit Wadon. Sebuah upacara adat yang dilakukan oleh LAD (Lembaga Adat Desa) Mangliawan sebagai pelaku budaya dan diikuti oleh masyarakat umum.
Air dianggap sebagai sumber kehidupan yang vital bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Dalam budaya Jawa, air juga dipercayai memiliki kekuatan magis yang mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Oleh karena itu, upacara perkawinan air ini bertujuan untuk mempertemukan dua sumber air yang dianggap memiliki energi dan kekuatan magis yang berbeda, dan menggabungkannya menjadi satu. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat kekuatan dan energi positif dari air tersebut, serta memperkuat ikatan antara manusia dan lingkungan hidupnya.
Selain itu, upacara perkawinan air juga memiliki nilai sosial dan budaya yang penting. Perayaan ini diikuti oleh seluruh masyarakat, yang artinya mencakup berbagai lapisan sosial dan budaya. Dalam hal ini, upacara perkawinan air menjadi simbol dari persatuan dan kesatuan antarwarga desa, serta menggambarkan betapa pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan hidupnya.
Pelatihan Aktivis Desa Praktik Baik Pelestarian Air di Desa Mangliawan
Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Mangliawan, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Pakar pemberdayaan memahamkan cara mengoptimalkan potensi praktik baik yang ada di desa dan membangun kerjasama yang harmonis antarwarga, sementara pakar media membahas cara mengkomunikasikan pesan-pesan penting praktik baik kepada masyarakat melalui media yang efektif. Fasilitator memandu peserta dalam menyusun strategi penyebarluasan praktik baik, baik itu secara door-to-door ataupun melalui acara komunal dengan bantuan media peraga yang dipilih. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Foto Salah Satu Kelompok FGD pada Pelatihan Aktivis Desa Mangliawan.
Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.
Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.




