Praktik Baik Kerukunan Umat Beragama di Desa Mojorejo

Cita Rasa Ramadan Mojorejo
Credit: Foto warga Mojorejo.

Di Desa Mojorejo menjadi salah satu desa di Kota Batu yang telah ditetapkan sebagai “Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama” oleh Pemerintah Kota Batu maupun Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pada tahun 2021. Predikat tersebut tidak terlepas dari praktik baik (best practice) yang telah terbangun sekian lama di desa tersebut, yakni hubungan antar kelompok agama yang terjalin dengan baik dan harmonis. Penduduk Mojorejo memiliki keragaman pemeluk agama. Di samping Islam sebagai mayoritas, ratusan penduduk lain memeluk Kristen Protestan, Katolik, dan Budha.

Praktik kerukunan di Mojorejo misalnya antar umat agama saling bantu membantu dalam perayaan hari keagamaan masing-masing, saling berkunjung dan silaturahmi antar umat agama, membentuk kegiatan dan kesenian warga dengan latar belakang berbagai kepercayaan, dan sebagainya. Di Dusun Ngadat Mojorejo, antara masjid dan gereja berdiri berdampingan. Vihara Dhammadipa berdiri megah di depan balai desa. Tak kalah menarik, di Mojorejo juga terdapat punden Mojorejo yang juga menjadi lokasi Prasasti Sangguran, ditengarai prasasti peninggalan kerajaan Mataram Hindu-Budha abad 7. Masyarakat Mojorejo sangat menghargai keberadaan punden dan merawatnya hingga saat ini.

Kerukunan umat beragama menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Kebersamaan dan gotong-royong masyarakat Desa Mojorejo turut mempengaruhi keberhasilan praktik kerukunan umat beragama. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Mereka memahami bahwa menjaga kerukunan bukanlah tanggung jawab satu individu saja, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.

Melalui praktik pengelolaan keragaman yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Mojorejo telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga kerukunan umat beragama tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Mojorejo tetap menjadi teladan dalam kerukunan umat beragama yang baik.

Punden Mbok Tarminah: Panggon

Punden Mbok Tarminah: Panggon Pengayom

Credit: Foto warga Mojorejo.

Di salah satu tempat yang dulunya dikenal sebagai tempat yang mengerikan, kini menjadi tempat yang mengayomi masyarakat Desa Mojorejo. Punden Mbok Tarminah, begitu tempat tersebut dinamakan, tidak hanya berfungsi sebagai pusat spiritual, namun juga sebagai pusat budaya dan kesenian yang penting bagi masyarakat setempat. Menariknya, Punden Mbok Tarminah menjadi tempat berkumpulnya umat dari berbagai agama. Masyarakat desa bahkan sering mengadakan doa bersama lintas agama di tempat ini, dalam acara yang dikenal sebagai Malam Tirakatan. Punden ini juga menjadi lokasi yang sama dengan replika Prasasti Sangguran yang merupakan tinggalan kerajaan Hindu-Budha abad 7.

Hal ini menunjukkan betapa tingginya nilai kerukunan dan toleransi antar umat beragama dalam mewujudkan kebersamaan dan harmoni di masyarakat Desa Mojorejo. Harapannya Punden Mbok Tarminah dan warga Desa Mojorejo menjadi contoh inspiratif bagi masyarakat lainnya dalam menjaga kerukunan dan toleransi antar umat beragama.

Agama Buddha Beri Lambang bagi Desa Mojorejo

Agama Buddha Beri Lambang bagi Desa Mojorejo

Credit: Foto warga Mojorejo.

Keindahan dan keberagaman agama di Desa Mojorejo memang patut dirayakan. Vihara Dhammadipa Arama menjadi sebuah simbol konkret tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat merayakan perbedaan agama dan menikmati kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Tradisi Pindapatta di Desa Mojorejo membawa pengalaman spiritual yang sangat khas. Saat umat dari berbagai agama berkumpul untuk memberikan persembahan bagi para bhikkhu, suasana saling menghormati dan kebersamaan terjalin dengan sangat kuat. Terlepas dari perbedaan latar belakang agama, semua orang merayakan tradisi ini dengan penuh sukacita.

Keberagaman agama di Desa Mojorejo bukanlah halangan untuk hidup bersama dalam harmoni dan saling menghormati. Sebaliknya, keberagaman agama menjadi sumber kekuatan dan kebanggaan bagi masyarakat setempat. Desa Mojorejo memperlihatkan bahwa toleransi dan kebersamaan antar umat beragama bisa terjalin dalam keberagaman, yang menjadikan masyarakatnya semakin kuat dan meriah.

Cita Rasa Ramadan Mojorejo

Cita Rasa Ramadan Mojorejo

Credit: Foto warga Mojorejo.

Di Desa Mojorejo, bulan Ramadan bukan hanya menjadi momen suci bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi momen yang dirayakan secara inklusif dalam konteks kerukunan umat beragama. Masyarakat Desa Mojorejo menyelenggarakan kegiatan berbagi takjil dan buka bersama yang diadakan oleh warga non-Muslim, menunjukkan betapa inklusifnya mereka dalam merayakan bulan suci ini. Selain itu, antusiasme pemuda karang taruna yang berasal dari berbagai agama dalam memeriahkan bulan Ramadan juga menjadi bukti nyata tentang betapa kerukunan antarumat beragama di Desa Mojorejo. Dengan turun langsung ke jalanan untuk menghibur dengan cara bermain musik dan membangunkan sahur, pemuda karang taruna membuktikan bahwa meskipun berbeda agama, mereka tetap dapat hidup dan merayakan momen suci ini bersama-sama dalam suasana harmoni dan persaudaraan.

Keikutsertaan Desa Mojorejo dalam Karnaval Perayaan HUT Kota Batu

Keikutsertaan Desa Mojorejo dalam Karnaval Perayaan HUT Kota Batu

Credit: Foto warga Mojorejo.

Desa Mojorejo merupakan salah satu desa yang terkenal dengan budidaya ikan dan sayur organiknya. Meski turut serta memeriahkan perayaan ulang tahun Kota Batu dengan mempertunjukkan Fashion Karnaval, masyarakat setempat merasa bahwa keunggulan desa yang sebenarnya seharusnya dipersembahkan adalah produksi ikan dan sayur organik mereka. Diharapkan ke depannya, potensi budidaya ikan dan sayur organik ini dapat semakin dikembangkan dan diangkat sebagai kebanggaan desa yang mempromosikan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan. Dalam kegiatan ini warga dari berbagai latar belakang umat beragama turut terlibat. Desa Mojorejo juga merupakan representasi dari desa yang menjunjung tinggi kerukunan umat beragama. Di sini, umat beragama hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai satu sama lain. Hal ini terlihat dari adanya tradisi-tradisi keagamaan yang dilaksanakan oleh umat beragama yang berbeda di Desa Mojorejo, seperti tradisi Pindapatta yang melibatkan umat Buddha, maupun perayaan bulan Ramadan yang dihadiri oleh umat Muslim dan non-Muslim. Dengan adanya kerukunan umat beragama yang terjaga dengan baik, Desa Mojorejo menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia untuk mengembangkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

Pelatihan Aktivis Desa Praktik Baik Promosi Kerukunan Umat Beragama di Desa Mojorejo

Upaya promosi praktik baik desa kerukunan umat beragama di Mojorejo di atas adalah hasil dari diskusi dan dialog dengan warga desa yang dilakukan pada 17 Maret 2023 di Balai Desa Mojorejo. Dalam kegiatan pelatihan aktivis desa di Desa Mojorejo, terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Materi-materi dalam workshop mengacu pada Buku Saku Panduan Program Sekolah Keragaman II: Promosi Praktik Baik dan Pengelolaan Keragaman. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Pelatihan Aktivis Desa Praktik Baik Promosi Kerukunan Umat Beragama di Desa Mojorejo

Sesi FGD Pelatihan Aktivis Desa Mojorejo.

Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa.

Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.

Unduh buklet Desa Mojorejo
Simak Praktik Baik di Desa lainnya
downloadcrossmenu