Praktik Baik Pelestarian Hutan Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang

Pelestarian Aliran Sungai di Hutan Selorejo
Credit: Foto dari warga Selorejo.

Di Desa Selorejo, pelestarian hutan menjadi salah satu praktik baik yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Hutan Selorejo di lereng Gunung Kawi bersinggungan dekat dengan warga sejak sekian lama, baik sebagai sumber kehidupan, pemukiman, maupun memberi roh bagi adat istiadat masyarakat di sana. Hutan sebagai wilayah tangkapan air dan jika terjadi kerusakan (seperti kebakaran hutan yang sering terjadi), yang paling mendapat imbasnya adalah warga sekitar.

Pentingnya hutan bagi warga Selorejo menumbuhkan kepedulian kolektif warga terhadap pelestarian hutan. Sudah sekian lama, warga Selorejo terutama Dusun Gumuk dan dusun lain memiliki kesadaran tinggi untuk merawat hutan; mulai dari menjaga tegakan pohon, menanam pohon, menjaga sumber air, membentuk organisasi pengelola hutan, sampai memanfaatkannya menjadi destinasi ekowisata Bedengan. Seni budaya yang cukup dikenal di sana, yakni Wong Ireng, juga merupakan ekspresi simbolik dari semangat pelestarian hutan ini.

Semangat pelestarian hutan di Selorejo kini salah satunya dimotori oleh Tim Landak (Lembaga Adat Desa dan Konservasi) Desa, Kepala Desa, bersama seluruh warga dari berbagai dusun. Kebersamaan dan gotong-royong masyarakat Desa Selorejo turut mempengaruhi keberhasilan praktik pelestarian hutan. Toleransi dan inklusi menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antar warga. Mereka memahami bahwa menjaga hutan bukanlah tanggung jawab satu individu, kelompok, maupun dusun tertentu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif.

Melalui praktik pengelolaan keragaman yang baik dan berhasil guna, masyarakat Desa Selorejo telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga sumber daya hutan tidak hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Semoga praktik baik ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga Desa Selorejo tetap menjadi teladan dalam pelestarian hutan dan pengelolaan lingkungan yang baik.

Pelestarian Aliran Sungai di Hutan Selorejo

Pelestarian Aliran Sungai di Hutan Selorejo

Credit: Foto dari warga Selorejo.

Kegiatan pelestarian daerah aliran sungai dengan menanam pohon jenis fikus atau beringin di kawasan hutan Selorejo adalah salah satu praktik guyub rukun yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Dalam membangun konservasi lingkungan, masyarakat Desa Selorejo memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian aliran sungai sebagai sumber mata air yang penting bagi kehidupan mereka dan generasi berikutnya.

Praktik guyub rukun menjadi kunci keberhasilan dalam kegiatan konservasi ini, karena masyarakat Desa Selorejo bekerja sama secara kolektif dalam menanam pohon dan menjaga kelestarian hutan di sekitar daerah aliran sungai. Toleransi dan inklusi juga menjadi nilai penting dalam membangun hubungan harmonis antara warga desa, sehingga praktik pelestarian hutan dan aliran sungai ini dapat berjalan dengan baik.

Melalui praktik konservasi yang baik dan dilakukan secara bersama-sama, masyarakat Desa Selorejo telah menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan lestari. Mereka memahami bahwa menjaga aliran sungai dan hutan bukanlah tanggung jawab satu individu, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dijalankan secara kolektif. Dengan mempraktikkan nilai-nilai guyub rukun, mereka dapat menjaga keberlangsungan lingkungan dan sumber daya alam yang ada di desa mereka, sehingga dapat mewariskan lingkungan yang baik dan lestari kepada generasi berikutnya.

Seni Tradisi Wong Ireng

Seni Tradisi Wong Ireng

Credit: Foto dari warga Selorejo

Pagelaran seni tari Wong Ireng tidak hanya merupakan sebuah hiburan semata, tetapi juga memiliki makna yang dalam dalam konteks pelestarian hutan. Sebagai simbol jogowono atau penjaga hutan yang menjadi sumber kehidupan warga, Wong Ireng menampilkan tarian dan musik yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Bulan Suro, saat Wong Ireng tampil untuk bersih desa, juga menjadi momen penting dalam upaya pelestarian hutan. Saat itulah masyarakat bersama-sama melakukan kegiatan membersihkan lingkungan sekitar dan menanam pohon di sekitar hutan. Wong Irengan menjadi bagian dari upacara ini, mengiringi masyarakat dengan permainan gamelan yang meriah dan semarak.

Melalui kesenian Wong Ireng, masyarakat di Desa Selorejo dapat mengapresiasi keindahan alam sekitar dan memperkuat rasa memiliki terhadap hutan. Dalam konteks pelestarian hutan, kesenian Wong Irengan dapat menjadi alat untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alam secara lestari.

Sebagai simbol jogowono, Wong Ireng juga memainkan peran penting dalam mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dalam menjaga hutan. Melalui permainan gamelan yang melibatkan banyak orang, Wong Ireng membantu membangun rasa solidaritas dan kebersamaan di antara masyarakat desa, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam upaya menjaga dan melestarikan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Upaya Pelestarian Hutan di wilayah Bedengan

Upaya Pelestarian Hutan di wilayah Bedengan

Credit: Foto dari warga Selorejo.

Kegiatan menanam pohon oleh warga Selorejo yang dimotori Tim Landak di wilayah Bedengan merupakan salah satu bentuk praktik pelestarian hutan yang dilakukan oleh warga Desa Selorejo. Dalam pelaksanaannya, semangat guyub rukun dan inklusi sangat terlihat, karena semua warga desa terlibat aktif dalam kegiatan ini. Dalam menjaga kelestarian hutan, warga Desa Selorejo memahami bahwa mereka harus bekerja sama dan saling membantu. Kegiatan menanam pohon yang dilakukan oleh warga Selorejo merupakan contoh nyata dari semangat guyub rukun dan inklusi tersebut.

Selain itu, kegiatan Tim Landak juga dapat menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk terlibat dalam pelestarian hutan. Dengan cara ini, semangat guyub rukun dan inklusi yang terbangun dalam masyarakat Desa Selorejo dapat menyebar ke seluruh masyarakat di sekitar hutan. Hal ini sangat penting, karena pelestarian hutan tidak bisa dilakukan oleh satu individu saja, melainkan harus melibatkan semua pihak yang terlibat.

Destinasi wisata hutan dan wisata memetik jeruk di Desa Selorejo juga dapat menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa setempat. Dengan menjaga kelestarian hutan dan memperhatikan aspek-aspek lingkungan lainnya, Desa Selorejo dapat mempertahankan keindahan alamnya dan menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang menarik. Dengan cara ini, masyarakat desa dapat mengembangkan ekonomi lokal mereka, sambil tetap memperhatikan kelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya.

Melestarikan Hutan Melestarikan Budaya

Melestarikan Hutan Melestarikan Budaya

Credit: Foto dari warga Selorejo

Wujud pelestarian hutan oleh warga Selorejo juga bukan hanya dalam soal fisik, namun juga kultural. Salah satunya adalah upacara selametan sumber atau selametan alas. Pada prinsipnya acara ini untuk mensyukuri apa yang telah diberikan oleh alam, hutan, dan sumber air serta meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa untuk tetap menjaga alam lingkungan tetap lestari. Warga desa Selorejo dalam acara ini membawa makan masing-masing (bancakan) ke masing-masing sumber air yang ada di hutan desa Selorejo setiang Bulan Suro. Kegiatan tradisi ini membangkitkan kesadaran warga akan pentingnya sumber air dan hutan sebagai penjaga ekosistemnya. Inilah salah satunya sampai saat ini warga Selorejo memiliki kesadaran tinggi mengenai pelestarian lingkungan.

Selametan tersebut biasanya digelar di titik utama sekitar punden desa di wilayah Bedengan. Warga seringkali merawat dan membersihkan punden tersebut. Pada tahun 2022, warga desa bersama mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pembersihan punden tersebut. Punden ini yang terletak di dalam hutan ini dianggap sakral oleh warga setempat. Menjaga hutan sebagai tempat sakral sangat penting untuk mempertahankan keberlangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya, termasuk hewan dan tumbuhan yang menjadi bagian dari ekosistemnya.

Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan menjadi suatu keharusan agar keanekaragaman hayati di dalamnya dapat terjaga. Selain itu, menjaga hutan juga penting untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia karena hutan adalah sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia, termasuk sebagai tempat penyerap karbon dan penghasil oksigen. Dengan menjaga hutan, maka akan tercipta keseimbangan alam yang sehat untuk keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Pelatihan Aktivis Desa Praktik Baik Pelestarian Hutan di Desa Selorejo

Praktik baik pelestarian hutan di Selorejo di atas dalah hasil dari diskusi dan dialog dengan warga desa yang dilakukan pada 15 Maret 2023 di Balai Desa Selorejo. Dalam kegiatan yang kita sebut pelatihan penggerak desa di Desa Selorejo ini terdapat dua metode yang digunakan, yaitu ceramah umum dan Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ceramah umum, satu pakar pemberdayaan (Dhanny S. Sutopo, S.Sos., M.Si ) dan dua pakar media (Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds dan Erwin Sidharta) membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka. Sementara pada sesi FGD, 16 mahasiswa dan tim Wargakarta memandu diskusi dan bertukar pikiran mengenai topik yang disampaikan dalam ceramah serta praktik baik yang mereka yakini. Setiap pelatihan dibagi menjadi delapan kelompok dengan peserta delapan hingga sepuluh warga desa, didampingi oleh dua fasilitator mahasiswa.

Pelatihan Aktivis Desa Praktik Baik Pelestarian Hutan di Desa Selorejo

Sesi FGD Pelatihan Aktivis Desa Selorejo.

Sesi FGD Pengolahan Media Promosi Praktik Baik merupakan sesi penting dalam pelatihan aktivis desa. Dalam sesi ini, para peserta dibekali dengan keterampilan untuk merancang dan memproduksi media promosi praktik baik yang efektif dengan menggunakan aplikasi yang mudah digunakan. Para peserta dilatih untuk mengembangkan kata kunci media promosi, pengelolaan sumber daya bersama, dan budaya-tradisi untuk menciptakan narasi promosi praktik baik yang disematkan pada media foto dan gambar. Dalam diskusi, para peserta didorong untuk memilih jenis produk media promosi yang tepat (seperti poster, kalender, atau booklet) untuk menyebarluaskan praktik baik di desa. Hasil dari pelatihan inilah salah satunya kita wujudkan menjadi booklet ini.

Sesi FGD Gethok Tular membahas tentang bagaimana menyusun strategi penyebaran media praktik baik kepada warga. Dalam pelatihan ini, para peserta diberikan wawasan bagaimana merancang strategi agar media yang telah diciptakan dapat diterima dan dipahami substansinya oleh target warga penerima media promosi. Dengan menggabungkan sosialisasi, gotong royong, dan kampanye praktik baik, peserta didorong untuk merancang strategi penyebaran yang efektif untuk mencapai target warga sebanyak 400 individu. Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong partisipasi aktif warga dalam praktik baik dan memeliharanya untuk masa depan yang lebih baik.

Unduh buklet Desa Selorejo
Simak Praktik Baik di Desa lainnya
downloadcrossmenu